Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, BI Konsisten Redam Tekanan Pasar

oleh -35 Dilihat
oleh
Rupiah kian tertekan dan mendekati level Rp18.000 per dolar AS di tengah gejolak pasar global. Bank Indonesia terus bergerak menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam tekanan terhadap mata uang Garuda.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,-  Nilai tukar Rupiah semakin mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan global. Bank Indonesia (BI) terus memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing dan obligasi guna menjaga pergerakan mata uang domestik tetap terkendali.

Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah di pasar spot pada Kamis (15/10/2026) dibuka melemah 0,3 persen ke posisi Rp17.956 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi di tengah penguatan dolar AS, meningkatnya ketidakpastian global, serta ekspektasi perubahan kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed.

Pada perdagangan sehari sebelumnya, Rabu (14/10/2026), Rupiah ditutup melemah di kisaran Rp17.902 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang domestik turut dipengaruhi tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan aksi pelepasan aset portofolio oleh investor asing di negara-negara berkembang.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, mengatakan bahwa meningkatnya inflasi AS di atas perkiraan pasar memicu spekulasi mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

“Rilis data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dari periode sebelumnya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh The Fed,” kata Erwin dalam keterangan resminya, Kamis (15/10/2026).

Selain tekanan inflasi, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar. Ketidakpastian penyelesaian konflik mendorong harga minyak bertahan di atas 105 dolar AS per barel, sekaligus meningkatkan risiko terhadap kondisi fiskal global.

Erwin menjelaskan, indeks dolar AS (DXY) sempat melonjak ke level tertinggi sejak Mei 2025. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun meningkat 12 basis poin hingga mencapai 4,90 persen.

Kondisi tersebut mendorong investor beralih ke aset yang dinilai lebih aman, sehingga meningkatkan tekanan arus modal keluar dari pasar negara berkembang.

Meski demikian, BI menilai pergerakan Rupiah masih relatif terukur dan sejalan dengan dinamika mata uang regional. Pelemahan Rupiah secara quarter-to-date (QTD) tercatat sebesar 0,17 persen. Cadangan devisa Indonesia juga berada pada level 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI secara konsisten melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

BI juga menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan memperkuat koordinasi dengan korporasi serta pelaku pasar keuangan.

Langkah tersebut diharapkan mampu meredam volatilitas dan memastikan pergerakan Rupiah tetap mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.