Penjelasan dan Contohnya P5 dalam Kurikulum Merdeka

oleh -651 Dilihat
oleh

KLIKINFOBERITA.COM – P5 diterapkan dalam kurikulum merdeka untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila kepada pelajar Indonesia. Lantas, apa itu P5 dalam kurikulum merdeka?

Dengan bimbingan guru, dan murid sekelasnya bersama-sama mengembangkan kreasi belajar P5

P5 merupakan singkatan dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Program ini bertujuan untuk memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mempelajari isu-isu penting di sekitar.

Apa Itu P5 dalam Kurikulum Merdeka?
Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan pembelajaran lintas disiplin ilmu dalam mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar. Proyek ini dilakukan untuk menguatkan berbagai kompetensi dalam profil pelajar pancasila.

Berdasarkan Kemendikbudristek No.56/M/2022, P5 ini adalah kegiatan kokurikuler berbasis proyek yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi. Juga sebagai upaya mewujudkan karakter sesuai dengan profil pelajar pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan.

Penerapan P5 ini didasarkan pada kebutuhan masyarakat atau permasalahan di lingkungan satuan pendidikan. Artinya, para pelajar diajak untuk belajar dari lingkungan sekitarnya.

Dengan kata lain, pelajar diberi kesempatan untuk ‘mengalami pengetahuan’. Sebagaimana ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa anak-anak mesti didekatkan hidupnya kepada kehidupan rakyat agar mereka tidak hanya memiliki pengetahuan saja, tapi bisa mengalaminya sendiri.

Dalam kegiatan proyek ini, peserta didik berkesempatan mempelajari tema-tema atau isu penting sekitar. Beberapa contohnya seperti isu perubahan iklim, anti radikalisme, kesehatan mental, budaya, wirausaha, teknologi, dan kehidupan berdemokrasi.

Hal tersebut diimplementasikan agar peserta didik dapat melakukan aksi nyata dalam menjawab isu-isu tersebut sesuai dengan tahapan belajar dan kebutuhannya. Sederhananya, P5 dijadikan sebagai sarana belajar yang mendorong peserta didik berperilaku kompeten, berkarakter, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

Adapun profil pelajar pancasila yang hendak diwujudkan yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, serta kreatif.

Dimensi-dimensi itu menunjukkan bahwa profil pelajar pancasila tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif saja. Tetapi juga sikap dan perilaku sesuai jati diri sebagai bangsa Indonesia dan warga dunia.

Apa Latar Belakang P5 Kurikulum Merdeka?
Penerapan P5 dalam kurikulum merdeka dilatarbelakangi oleh keresahan para pendidik dan praktisi pendidikan seluruh dunia beberapa dekade terakhir. Mereka menyadari bahwa hal-hal di luar kelas dapat membantu peserta didik memahami bahwa pembelajaran memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Cara Menerapkan P5 dalam Kurikulum Merdeka
Agar karakter para pelajar dapat terbentuk sesuai dengan profil pelajar pancasila, para tenaga pendidik perlu menerapkan P5 dengan baik dalam proses pembelajaran. Berikut contoh cara menerapkan P5 dalam kurikulum merdeka:

Contoh 1: Pak Abdullah Seorang Pengawas di Ternate

Selain bekerja sebagai pengawas sekolah, Pak Abdullah aktif berkegiatan di komunitas lingkungan. Akhir-akhir ini, di Ternate sering terjadi krisis air bersih karena mata air mengering.

Ketika SD dampingannya berkonsultasi untuk merancang proyek profil, Pak Abdullah menyarankan tema Gaya Hidup
Berkelanjutan, topik “Konservasi Air”. Siswa belajar tentang siklus air, lalu menyelidiki penyebab keringnya mata air.

Ternyata sebabnya adalah kerusakan hutan di lereng Gunung Gamalama, akibat erupsi pada tahun sebelumnya. Siswa dan sekolah sepakat membuat aksi penghijauan lereng gunung. Pak Abdullah bantu menghubungi DLHK untuk mendapat bantuan bibit pohon.

Setelah penanaman, siswa kerap berkunjung untuk menjenguk dan merawat pohon mereka. Dimensi Akhlak Mulia, khususnya Akhlak terhadap Alam, berkembang pesat pada diri siswa setelah menjalani proyek profil ini.

Contoh 2: Ningsih Seorang Peserta Didik di Sumbawa Barat

Ningsih seorang siswa SMP. Ningsih tinggal di desa nelayan gurita. Di sekolah, guru Ningsih merancang proyek profil bertopik “Detektif Gurita”.

Ningsih mengeksplorasi segala hal tentang dunia gurita, mulai dari karakteristik dan cara hidup gurita, hingga bagaimana gurita mempengaruhi kesejahteraan masyarakat desanya. Sewaktu menyelidiki, Ningsih dan teman-teman baru tahu bahwa gurita yang tidak laku biasanya hanya dibuang ke laut.

Dengan bimbingan guru, Ningsih dan teman sekelasnya bersama-sama mengembangkan kreasi pangan olahan gurita untuk memanfaatkan gurita yang tidak laku. Ningsih sangat senang karena ia dan teman-teman berkesempatan mengasah dimensi Kreatif dan Gotong Royong melalui proyek profil.

Contoh 3: Pak Aso Seorang Pendidik di Bandung

Pak Aso seorang guru SLB. Pak Aso mengamati, siswanya suka minum teh manis tetapi belum bisa membuat sendiri. Pak Aso merancang proyek profil bertema Kewirausahaan untuk mengembangkan dimensi Mandiri, berjudul
“Kita Suka Teh Manis”.

Siswa belajar mengenal alat dan bahan, menentukan ukuran gula dan air yang digunakan, menuangkan air dalam gelas, hingga menyajikan teh sendiri. proyek profil dilakukan melalui pendampingan, pengulangan dan pembiasaan baik di sekolah maupun di rumah.

Lebih jauh lagi, Pak Aso menyemangati siswanya berjualan teh manis pada pameran proyek profil. Siswa Pak Aso sangat senang, 20 gelas teh manis laku terjual hari itu. Setelah proyek profil berakhir, beberapa orang tua bercerita pada Pak Aso bahwa anaknya kini membuat teh manis sendiri setiap pagi.

Prinsip P5 dalam Kurikulum Merdeka
Dalam penerapan P5 kurikulum merdeka, terdapat empat prinsip penting. Di antaranya, holistik, kontekstual, berpusat pada peserta didik, dan eksploratif.

1. Holistik
Holistik bermakna memandang sesuatu secara ituh dan menyeluruh. Dalam perancangan P5, kerangka berpikir holistik ini mendorong pelajar untuk menelaah sebuah teks secara utuh untuk memahami suatu isu secara mendalam.

2. Kontekstual
Prinsip kontekstual artinya mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pengalaman dan pemecahan masalah secara langsung, diharapkan peserta didik bisa mendapatkan pelajaran bermakna untuk meningkatkan kemampuannya.

3. Berpusat pada Peserta Didik
Prinsip yang satu ini menjadikan peserta didik sebagai subjek pembelajaran yang aktif untuk mengelola proses belajarnya secara mandiri. Peserta didik juga berkesempatan memilih dan mengusulkan topik sesuai minatnya, sementara pengajar menjadi fasilitator.

4. Eksploratif
Eksploratif berkaitan dengan semangat untuk membuka ruang bagi pengembangan diri dan inkuiri. Pelaksanaan proyek ini memiliki area eksplorasi yang luas dari segi jangkauan materi peserta didikan, alokasi waktu, dan penyesuaian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.