Merawat Identitas Lewat Gerak: Ny. Dian Fitriani Wahyudi Apresiasi Pentas Tari di Festival Tabot 2026

oleh -10 Dilihat
oleh
Gemuruh tepuk tangan mengiringi setiap gerakan lincah penari di Festival Tabot Bengkulu 2026. Sebuah bukti bahwa budaya kita tetap hidup, bergerak, dan dicintai.-Foto :s.man/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Panggung Utama Tabot Sport Center di Pantai Panjang, Kota Bengkulu, berubah menjadi saksi bisu kebangkitan seni budaya pada Sabtu (20/6/2026). Di bawah langit sore yang mulai memerah, ratusan penonton terpukau menyaksikan deretan penari dari berbagai kalangan yang dengan lincah menghidupkan gerakan khas Nusantara dalam rangkaian Festival Tabot Bengkulu 2026. Acara kolaboratif antara Sanggar Essy Studio dan komunitas Ibu-Ibu Lenggang Cantik ini tidak hanya menampilkan keterampilan teknis, tetapi juga menyuarakan semangat pelestarian warisan leluhur.

Ny. Dian Fitriani Wahyudi, yang hadir memberikan sambutan, menekankan bahwa pentas seni ini melampaui sekadar hiburan visual. Baginya, setiap hentakan kaki dan ayunan tangan adalah pernyataan cinta terhadap budaya yang masih hidup di tengah masyarakat. “Ini bukan sekadar pertunjukan. Ini adalah pernyataan bahwa budaya kita hidup, bergerak, dan dicintai oleh masyarakatnya,” ujar Dian di tengah riuh rendah tepuk tangan pengunjung.

Lebih jauh, Dian menyoroti peran strategis seni tari dalam pembentukan karakter generasi muda. Ia menilai bahwa melalui tarian, anak-anak tidak hanya mempelajari estetika gerak, tetapi juga menyerap nilai sejarah, kebersamaan, dan kepercayaan diri. “Ketika anak-anak kita menari, mereka belajar tentang akar mereka. Ini bekal berharga untuk masa depan,” tambahnya. Ia berharap festival ini dapat menjadi cermin positif bagi warga Bengkulu, mengingatkan bahwa seni adalah identitas yang wajib dibanggakan dan dilestarikan secara turun-temurun.

Kehadiran pejabat daerah seperti Asisten III Setda Kota Bengkulu, Tony Elfian, dan Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Eddy Apriyanto, turut menambah khidmat suasana. Keduanya tampak larut dalam setiap atraksi, menunjukkan dukungan penuh pemerintah terhadap geliat seni lokal. Sementara itu, kehadiran penari cilik dengan kostum warna-warni berhasil mencuri perhatian, memicu decak kagum dan gelak tawa penonton yang menikmati semilir angin Pantai Panjang.

Festival Tabot 2026, yang digelar sepanjang pekan, terbukti menjadi magnet wisata budaya yang efektif. Perpaduan antara ritual sakral, ekspresi seni, dan perayaan rakyat tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi kreatif lokal. Menutup sambutannya, Dian mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung ruang ekspresi budaya. “Mari jadikan setiap pentas sebagai ruang pembelajaran. Karena dari budaya, kita mengenal siapa diri kita. Dari tari, kita menyatukan langkah,” pungkasnya dengan hangat.

Sambil mengucapkan terima kasih kepada Sanggar Essy Studio, Ibu-Ibu Lenggang Cantik, serta seluruh panitia, Dian berharap momentum ini terus berlanjut. Hingga matahari tenggelam di ufuk Samudra Hindia, gemuruh apresiasi penonton tetap bergema, menegaskan bahwa Festival Tabot 2026 istimewa bukan hanya karena tradisinya, melainkan karena cinta yang ditunjukkan oleh setiap insan yang hadir.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.