KLIKINFOBERITA.COM,- Di tengah dinamika ketahanan pangan dan energi global, Indonesia menemukan aset strategis yang sering kali terabaikan: rumput laut. Komoditas laut ini telah bertransformasi menjadi primadona dalam ekonomi biru nasional. Bukti nyata dominasi ini terlihat dari minat besar negara-negara maju seperti Tiongkok dan Singapura yang baru-baru ini menyerap ekspor rumput laut Indonesia dengan nilai kontrak mencapai 58 juta dolar AS atau setara Rp782,71 miliar.
Posisi Indonesia di pasar internasional kian kokoh. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak, menyatakan bahwa dunia mengakui keunggulan kualitas rumput laut Indonesia. Saat ini, Indonesia menguasai 26,50 persen dari total permintaan global senilai 1,09 miliar dolar AS, mengungguli pesaing tradisional seperti Chili, Korea Selatan, dan bahkan Tiongkok. Lonjakan permintaan ini didorong oleh diversifikasi industri, mulai dari pangan olahan, pakan ternak, kosmetik, hingga bahan baku pengendali pencemaran lingkungan. Akademisi Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, Catur Pramono Adi, menyebut komoditas ini sebagai “emas hijau” penggerak utama ekonomi maritim.
Meski menjadi pemasok utama, pemanfaatan potensi lahan budidaya masih sangat minim. Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu, mengungkapkan bahwa baru 11,65 persen dari total potensi lahan yang telah dikelola. Padahal, proyeksi nilai pasar global diprediksi melonjak drastis menjadi 23,9 miliar dolar AS pada 2035. Menyadari celah peluang ini, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) gencar melakukan revitalisasi, termasuk pembangunan model budidaya di Wakatobi, Rote Ndao, dan Maluku Tenggara, serta pengembangan bibit unggul via kultur jaringan.
Daya tarik rumput laut tidak hanya terletak pada pasar ekspor, tetapi juga pada efisiensi usaha bagi petani lokal. Metode long-line yang sederhana terbukti ramah lingkungan karena tidak merusak terumbu karang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa budidaya rumput laut di Kalimantan Timur lebih menguntungkan dibanding ikan patin. Dengan modal sekitar Rp9,5 juta per hektare, petani dapat meraup keuntungan 34,59 persen atau Rp5 juta dengan siklus panen cepat antara 35 hingga 50 hari, memungkinkan hingga tujuh kali panen dalam setahun.
Selain nilai ekonomi, rumput laut menawarkan manfaat kesehatan signifikan, seperti pencegahan sembelit, penguatan tulang, dan kesehatan jantung berkat kandungan asam lemak tak jenuh serta vitamin tinggi. Tantangan ke depan adalah transisi dari eksportir bahan mentah menuju pemain industri hilir. KKP tengah memperkuat rantai nilai melalui kolaborasi dengan Organisasi Pengembangan Industri PBB (UNIDO) dalam proyek senilai 2 juta Euro. Dengan dukungan riset dan teknologi, “emas hijau” ini siap menjadi tulang punggung ekonomi pesisir dan penyumbang devisa vital bagi Indonesia.







