Kemarau Panjang, 245 Hektare Sawah di Bengkulu Tengah Mulai Kekeringan

oleh -24 Dilihat
oleh
Helmi Yuliandri: Sejumlah lahan persawahan tadah hujan di Bengkulu Tengah mulai mengering akibat kemarau panjang. Pemerintah menyiapkan irigasi alternatif untuk menjaga musim tanam Oktober-November 2026.Foto : Dedy/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Kemarau panjang yang melanda sepanjang 2026 mulai berdampak terhadap lahan persawahan di Kabupaten Bengkulu Tengah. Sebanyak 245 hektare sawah tadah hujan di tiga kecamatan dilaporkan mulai mengalami kekeringan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Tengah, Helmi Yuliandri, mengatakan lahan yang terdampak tersebar di Kecamatan Pondok Kelapa, Pondok Kubang, dan Talang Empat. Seluruh lahan tersebut mengandalkan curah hujan sebagai sumber utama pengairan.

Meski demikian, kondisi kekeringan saat ini belum berdampak signifikan terhadap produksi padi. Sebab, sebagian besar tanaman telah memasuki fase generatif dan sejumlah lahan bahkan mulai memasuki masa panen.

“Kalau kondisi persawahan sekarang memang masih belum terlalu membutuhkan air karena sudah masuk fase generatif. Beberapa lahan juga sudah mulai panen,” kata Helmi, Kamis, 17 September 2026.

Namun, Dinas Pertanian mulai mewaspadai musim tanam berikutnya yang diperkirakan berlangsung pada Oktober-November 2026. Apabila kemarau masih berlanjut, petani berpotensi kesulitan mengolah lahan dan memulai penanaman karena keterbatasan sumber air.

“Yang kita khawatirkan adalah musim tanam Oktober 2026. Jika kemarau masih terjadi, produksi padi pada musim tanam berikutnya dikhawatirkan berkurang drastis,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah menyiapkan sejumlah langkah, termasuk mencari sumber air alternatif bagi lahan pertanian. Salah satunya melalui program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang diusulkan melalui Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VII.

Selain itu, Dinas Pertanian Bengkulu Tengah telah mengusulkan bantuan empat unit irigasi perpompaan kepada Kementerian Pertanian. Pemerintah daerah juga mengusulkan pembangunan lima unit JIAT untuk mendukung kebutuhan air di lahan persawahan.

Helmi menjelaskan, irigasi perpompaan nantinya memanfaatkan air dari sumur bor. Air tersebut akan dialirkan ke lahan sawah ketika curah hujan belum mencukupi kebutuhan tanaman.

“Irigasi perpompaan ada empat unit yang kita usulkan, sedangkan JIAT sebanyak lima unit. Sumber air untuk irigasi perpompaan nantinya berasal dari sumur bor,” jelasnya.

Pemerintah daerah berharap bantuan tersebut dapat direalisasikan sebelum petani memasuki musim tanam Oktober-November. Namun, pelaksanaannya masih menunggu persetujuan dari pemerintah pusat.

Selain membangun sumber air alternatif, perbaikan jaringan irigasi yang sudah tersedia juga menjadi perhatian. Jaringan irigasi di Kecamatan Pondok Kelapa dan Pondok Kubang diharapkan dapat diperbaiki agar petani tidak sepenuhnya bergantung pada hujan.

Sementara itu, kondisi persawahan di Kecamatan Merigi Kelindang, Taba Penanjung, dan Karang Tinggi relatif aman. Ketersediaan air di tiga wilayah tersebut masih mencukupi karena jaringan irigasinya tetap berfungsi.

Helmi berharap berbagai upaya tersebut mampu menjaga keberlanjutan musim tanam dan mencegah kekeringan meluas. “Mudah-mudahan dengan langkah ini musim tanam Oktober-November 2026 tetap bisa dipertahankan,” pungkasnya.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.