KLIKINFOBERITA.COM, – Di tengah meningkatnya tren pertanian urban dan semangat kembali ke alam, sebuah tanaman lokal bernama cung kediro mulai mencuri perhatian masyarakat Palembang dan sekitarnya. Buah mungil yang dikenal juga dengan sebutan rampai ini menyerupai tomat cherry, namun memiliki rasa yang jauh lebih tajam dan khas menjadikannya bahan andalan untuk sambal, khususnya sambal mentah.
Tak sekadar sebagai pelengkap rasa di dapur, cung kediro kini menjadi peluang nyata untuk menambah penghasilan rumah tangga. Banyak warga mulai menanamnya di pekarangan rumah, baik dalam pot maupun langsung di tanah, karena perawatannya yang relatif mudah dan hasil panen yang melimpah.
Berbeda dari tomat biasa yang cenderung berair dan agak hambar, cung kediro memiliki daging buah yang padat dengan rasa asam segar yang kuat. Karakteristik ini membuatnya sangat cocok untuk diolah menjadi sambal mentah, yang biasa disantap bersama lalapan, ikan goreng, atau pindang khas Sumatera Selatan.
“Bagi saya pribadi, tomat biasa terlalu lembek dan hambar untuk sambal mentah. Tapi cung kediro? Rasanya benar-benar nendang! Sekali coba, pasti ketagihan,” ujar Laila, warga Bengkulu yang telah menanam cung kediro di rumahnya selama hampir setahun terakhir.
Selain keunggulan rasa, cung kediro juga memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Di pasar tradisional, harga per kilogramnya bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dari tomat biasa, tergantung musim dan ketersediaan pasokan.
“Permintaannya terus naik, terutama dari pelaku usaha kuliner seperti warung makan dan katering. Banyak yang mencari karena rasanya yang khas,” ungkap Edi, seorang pedagang sayur di pasar panorama.
Melihat potensi ini, beberapa kelompok tani di kawasan pinggiran Palembang mulai menggalakkan budidaya cung kediro sebagai komoditas tambahan. Dengan masa tanam yang singkat sekitar 60 hingga 75 hari sejak penanaman hingga panen pertama tanaman ini dinilai sangat efisien dan menguntungkan.
Menariknya, cung kediro sangat adaptif terhadap kondisi lahan terbatas. Warga kota yang tidak memiliki kebun luas pun tetap bisa menanamnya dalam pot atau sistem vertikultur. Hal ini sejalan dengan tren urban farming yang kian populer di kota-kota besar, terutama di kalangan generasi muda yang mulai peduli pada kemandirian pangan.
“Saya tanam di rooftop pakai pot bekas cat. Sekarang sudah panen dua kali. Selain buat konsumsi sendiri, sisanya saya jual ke tetangga. Lumayan banget untuk tambahan uang belanja,” kata Riko, seorang pekerja lepas yang tinggal di Al-Muhajirin panorama .
Dengan cita rasa yang unik, kemudahan budidaya, serta nilai ekonomi yang menjanjikan, cung kediro bukan sekadar tomat lokal. Ia adalah bukti bahwa potensi besar bisa tumbuh dari lahan kecil asal ada kemauan dan kreativitas.









