Siapkan Generasi Digital Native, Koding Masuk Kurikulum Sekolah Dasar

oleh -418 Dilihat
oleh
Era digital:Anak SD kini belajar koding Kemendikbudristek integrasikan literasi digital sejak dini, latih logika dan kreativitas generasi muda untuk hadapi tantangan industri 4.0. Belajar sambil bermain, menyenangkan.-foto:man/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Menjawab tantangan revolusi industri 4.0, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mulai mengintegrasikan literasi digital dan pemrograman (koding) dalam kurikulum sekolah dasar. Langkah ini diambil untuk mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakannya.

Program percontohan telah diluncurkan di 50 sekolah dasar di 10 provinsi pada tahun ajaran 2024/2025. Para siswa diajak mengenal konsep computational thinking melalui permainan edukatif yang menyenangkan, jauh dari kesan rumit dan menakutkan.

“Kita harus mulai dari dasar. Anak-anak zaman sekarang adalah digital native, mereka perlu dibekali kemampuan untuk menjadi produser teknologi, bukan sekadar konsumen,” tegas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Pendekatan pembelajaran koding untuk anak SD dirancang secara bertahap:

Kelas 1-2: Pengenalan algoritma melalui aktivitas sehari-hari dan permainan fisik

Kelas 3-4:Pemrograman visual menggunakan block-based programming

Kelas 5-6:Pengembangan game sederhana dan animasi dasar

“Kami tidak menargetkan anak-anak menjadi programmer andal, tapi yang lebih penting adalah melatih logika, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah,” jelas Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani.

Program ini didukung dengan pelatihan intensif bagi guru-guru SD. Sebanyak 500 guru telah mengikuti program sertifikasi pengajar coding untuk tingkat dasar. Mereka dibekali metode pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan psikologis anak.

“Awalnya saya khawatir, tapi ternyata anak-anak justru sangat antusias. Mereka belajar logika programming seperti menyusun puzzle,” tutur Ige, salah satu guru SDN di Kota Bengkulu yang telah menerapkan program ini.

Orang tua juga memberikan respons positif. “Anak saya jadi lebih terarah dalam menggunakan gawai, tidak sekadar main game tapi belajar membuat game sederhana,” ujar Budi, orang tua siswa.

Ke depan, Kemendikbudristek berencana memperluas program ini ke lebih banyak sekolah dan mengembangkan platform pembelajaran digital yang dapat diakses oleh seluruh siswa SD di Indonesia. Langkah strategis ini diharapkan dapat mempercepat terwujudnya visi Indonesia Emas 2045 dengan menyiapkan talenta digital sejak dini.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.