Rupiah Menguat 0,75% dalam Sepekan, Proyeksi Pekan Depan Rp17.600–Rp17.900

oleh -39 Dilihat
oleh
Rupiah menguat di tengah gejolak global: pelaku pasar waspada defisit transaksi berjalan, namun kebijakan buyback AS tekan dolar ekspektasi minggu depan Rp17.600–Rp17.900 per USD.-Foto : Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Nilai tukar rupiah menguat 0,75% sepanjang pekan perdagangan yang berakhir Jumat (21/8/2026), menutup pada level Rp17.694 per dolar AS dari posisi Rp17.827 per dolar AS pada awal pekan. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen positif dari pasar keuangan Amerika Serikat, meski pelebaran defisit transaksi berjalan domestik tetap menjadi perhatian pelaku pasar.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut kebijakan Departemen Keuangan AS yang memperbesar program pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah berjangka panjang sebagai salah satu faktor utama penguatan rupiah. “Kebijakan buyback, yang dirancang menekan imbal hasil obligasi tenor panjang, telah menekan dolar AS sehingga memberikan ruang bagi mata uang emerging market termasuk rupiah untuk menguat,” kata Ibrahim, dikutip Sabtu (22/8/2026).

Secara harian, rupiah di pasar spot menguat 0,30% pada Jumat. Penguatan juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, yang menguat 0,73% secara mingguan ke level Rp17.705 per dolar AS dari Rp17.836 per dolar AS, serta tercatat menguat 0,42% secara harian.

Departemen Keuangan AS berencana menetapkan nilai buyback sedikitnya USD4 miliar per operasi pada kuartal mendatang. Langkah ini ditujukan menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang dan berpotensi melanjutkan tekanan pelemahan terhadap dolar AS.

Dukungan bagi rupiah juga datang dari data pasar tenaga kerja AS yang dinilai relatif stabil. Penurunan klaim tunjangan pengangguran mingguan memperkuat ekspektasi pasar bahwa tekanan inflasi tenaga kerja masih terkendali, sehingga mengurangi tekanan kenaikan suku bunga agresif oleh Federal Reserve.

Namun, laju penguatan rupiah terbatasi oleh pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia. Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan kuartal II-2026 mencapai USD12,5 miliar atau sekitar 3,3% terhadap produk domestik bruto (PDB), naik signifikan dari USD3,6 miliar (1,0% terhadap PDB) pada kuartal sebelumnya. Ibrahim mengatakan pelebaran defisit ini dipicu oleh menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas akibat meningkatnya impor untuk memenuhi kebutuhan domestik, serta kenaikan defisit perdagangan migas terkait lonjakan impor dan harga minyak dunia.

Pelaku pasar juga mewaspadai risiko inflasi pangan seiring potensi kekeringan yang dipicu fenomena El Niño. Tekanan pasokan komoditas pangan dapat memicu kenaikan harga dan menambah tantangan bagi stabilitas moneter.

Dengan mempertimbangkan sentimen global dan kondisi domestik, Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan pekan depan bergerak dalam rentang Rp17.600–Rp17.900 per dolar AS. Investor diimbau memantau perkembangan kebijakan fiskal AS, data ekonomi utama, serta laporan neraca transaksi berjalan Indonesia sebagai faktor penentu arah rupiah dalam jangka pendek.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.