KLIKINFOBERITA.COM,- Proyek revitalisasi SMK Kelautan dan Perikanan Bengkulu Tengah senilai Rp3,244 miliar dari APBN 2025 jadi sorotan keras. Diduga ada mark-up anggaran, proyek ini molor lewat batas kontrak 15 Desember 2025, memicu tanda tanya publik soal pengelolaan dana pusat.
Hingga Senin (22/12/2025), tujuh unit gedung termasuk UKS, lab komputer, perpustakaan, ruang kelas, BK, dan RPS masih dalam finishing seperti pengecatan. Keterlambatan ini kontras dengan anggaran fantastis yang seharusnya hasilkan fasilitas prima bagi siswa kelautan.
Ketua Yayasan Pendidikan SMK Taruna KP Bengkulu, Mulyan Susanto, mengaku tak tersentuh teknis proyek. “Anggaran Rp3,244 miliar untuk tujuh gedung. Tapi saya tak dilibatkan sama sekali tak ada dokumen teknis atau draft. Semua urusan kepala sekolah,” tegasnya kepada CNN Indonesia.
Soal molor kontrak? “Itu ranah kepala sekolah, bukan yayasan,” tambah Mulyan, menegaskan jaraknya dari pengelolaan anggaran dan MOU.
Kepala sekolah Deva Natalia tak menyangkal keterlambatan. “Kontrak memang 15 Desember, tapi cuaca buruk dan kendala teknis lapangan paksa perpanjangan hingga akhir Desember. Sudah konfirmasi ke Kementerian,” ujarnya.
Deva menepis tudingan mark-up. “Semua sesuai juknis pusat, diawasi tim perencana dan pengawas independen. Finishing tinggal sedikit lagi,” klaimnya.
Meski ada pembelaan, Publik Bengkulu Tengah was-was. Apakah Rp3,244 miliar sepadan dengan hasil? klikinfoberita.com pantau isu ini menanti audit resmi Kementerian untuk ungkap fakta di balik dugaan mark-up dan molor proyek prestisius ini.











