Peluang Penurunan Harga Pertamax Menipis di Sisa 2026

oleh -42 Dilihat
oleh
Harga Pertamax turun tipis, ruang penurunan makin sempit. Minyak dunia melemah, tapi biaya pengadaan dan kurs rupiah menahan laju penurunan. Konsumen tetap waspada, pemerintah jaga keseimbangan subsidi dan nonsubsidi.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Penurunan harga Pertamax masih berpotensi berlanjut hingga akhir 2026, namun ruang geraknya diperkirakan sangat terbatas. Pelemahan harga minyak dunia belum sepenuhnya diteruskan ke harga jual karena biaya pengadaan, nilai tukar rupiah, dan faktor eksternal lain masih menahan laju penurunan.

Sejumlah operator SPBU terakhir kali melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 1 Agustus 2026. Pertamina menurunkan harga beberapa jenis bensin nonsubsidi. Pertamax turun dari Rp16.250 per liter menjadi Rp15.950 per liter. Pertamax Green turun dari Rp17.000 per liter menjadi Rp16.600 per liter. Sementara Pertamax Turbo turun dari Rp19.300 per liter menjadi Rp18.300 per liter.

Adapun harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter.

Operator swasta juga ikut menyesuaikan harga. BP-AKR, misalnya, menurunkan harga BP 92 menjadi Rp16.130 per liter dari sebelumnya Rp16.670 per liter. Harga BP Ultimate juga turun menjadi Rp16.760 per liter dari Rp17.240 per liter.

Sikap Pertamina: Menunggu Perkembangan Faktor Penentu

Pertamina Patra Niaga belum memberikan kepastian terkait arah harga BBM nonsubsidi di sisa 2026. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan penyesuaian harga akan tetap mengikuti mekanisme yang berlaku dan berkoordinasi dengan pemerintah. “Kita masih akan lihat ke depannya. Penyesuaian harga tentu dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku dan atas koordinasi dengan Pemerintah,” katanya kepada Bisnis, Senin (31/8/2026).

Roberth memaparkan sejumlah komponen yang memengaruhi harga BBM jenis JBU (Jenis Bahan Bakar Umum), mencakup Pertamax Series dan Dex Series. Pertama, pergerakan harga minyak mentah dunia. Kedua, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, mengingat transaksi impor minyak menggunakan mata uang tersebut. Ketiga, harga produk BBM di pasar internasional atau Mean of Platts Singapore (MOPS) yang menjadi acuan regional Asia.

Selain itu, biaya produksi dan distribusi juga memperhitungkan perbedaan harga antardaerah. Pajak daerah, termasuk Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB), turut memengaruhi harga akhir di SPBU. Kondisi geopolitik global, seperti konflik di negara produsen minyak dan gangguan jalur distribusi, juga menjadi faktor risiko yang dapat menekan harga energi.

Ekonom Senior Core Indonesia Muhammad Ishak Razak memperkirakan biaya pengadaan BBM dalam rupiah masih berpotensi naik 4–7 persen dibanding bulan sebelumnya. Karena itu, harga BBM nonsubsidi diperkirakan cenderung bertahan atau hanya turun tipis sekitar Rp0–Rp300 per liter. “Skenario yang paling realistis ialah harga BBM nonsubsidi tetap, kalaupun terjadi penurunan, besarannya diperkirakan hanya sekitar Rp0–300 per liter,” ujar Ishak.

Ishak menilai peluang penurunan lebih besar terbuka jika harga minyak dunia kembali melemah dan rupiah stabil. Ruang penurunan juga akan lebih luas apabila tidak ada kebijakan pemerintah yang meminta Pertamina menahan penurunan harga untuk menjaga margin.

Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai penurunan harga yang dilakukan penyedia BBM saat ini masih konservatif dibandingkan koreksi harga minyak dunia beberapa bulan terakhir. Harga minyak mentah Brent periode April–Juli berada di rata-rata US$105 per barel, sementara saat ini di kisaran US$85 per barel. Artinya, harga minyak terkoreksi sekitar 20 persen, namun penyedia BBM baru menurunkan harga sekitar 2,5 persen.

Dengan asumsi yield bensin 0,6 dan kurs Rp17.800 per dolar AS, Hadi memperkirakan harga Pertamax seharusnya berada di sekitar Rp15.800 per liter, atau turun sekitar Rp150 dari level Rp15.950 per liter saat ini. “Harga Pertamax seharusnya sekitar Rp15.800, turun sekitar Rp150 dari saat ini sekitar Rp15.950,” tuturnya.

Di sisi lain, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara harga BBM nonsubsidi dan subsidi. Disparitas harga Pertalite dan Pertamax yang telah mencapai sekitar 60 persen berpotensi memengaruhi pola konsumsi. Jika harga nonsubsidi terlalu rendah, selisih dengan subsidi makin kecil. Sebaliknya, jika terlalu tinggi, konsumen berpotensi beralih ke BBM bersubsidi.

Konsumsi Pertalite dan Solar diperkirakan kembali melampaui kuota pada 2026. Ishak menilai penurunan harga nonsubsidi memang berpotensi mendorong sebagian konsumen kembali ke nonsubsidi, namun dampaknya terbatas karena harga Pertalite masih Rp10.000 per liter. “Pergeseran konsumsi baru berpotensi lebih terasa apabila harga Pertamax turun ke kisaran Rp12.000–14.000 per liter,” katanya.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.