Emas Tembus Rekor US$4.600, Investor Global Beralih ke Logam Mulia di Tengah Penurunan Yield AS

oleh -15 Dilihat
oleh
Emas bersinar di atas US$4.600! Yield AS turun, dolar melemah, investor global beralih ke logam mulia. Momentum emas Antam tembus Rp2,75 juta. Saatnya amankan aset Anda dengan investasi safe-haven yang prospektif.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKI LNFOBERITA.COM,- Harga emas dunia mencatatkan kinerja gemilang dengan menembus level psikologis US$4.600 per troy ounce pada akhir Agustus 2026. Kenaikan ini didorong oleh perubahan dinamika pasar obligasi Amerika Serikat (AS), di mana penurunan yield mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar, sehingga memicu arus modal global beralih ke aset safe-haven seperti emas dan perak.

Bank swasta asal Swiss, Julius Baer, menilai prospek emas tetap sangat konstruktif dalam kondisi saat ini. Menurut analis mereka, program pembelian kembali (buyback) obligasi yang dilakukan oleh The Federal Reserve (The Fed) menjadi katalis utama. Langkah ini membatasi tekanan kenaikan yield obligasi jangka panjang sekaligus berkontribusi terhadap pelemahan Dolar AS.

“Dalam kondisi tersebut, investor semakin beralih ke emas dan perak sebagai aset penyimpan nilai potensial. Yield yang lebih rendah membuat biaya peluang untuk memegang emas dan perak menjadi lebih kecil,” ujar perwakilan Julius Baer dalam laporannya.

Secara fundamental, emas dan perak merupakan aset yang tidak memberikan pendapatan rutin (non-yielding asset). Oleh karena itu, kedua logam mulia ini cenderung kurang menarik ketika suku bunga atau yield obligasi tinggi. Sebaliknya, ketika yield turun, daya tarik emas sebagai lindung nilai (hedging) terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi kembali meningkat.

Meski kebijakan buyback ini dinilai signifikan, Julius Baer menegaskan bahwa langkah tersebut belum dapat dikategorikan sebagai penerapan resmi Yield Curve Control (YCC). Namun, intervensi ini telah memperbaiki prospek logam mulia dengan mengurangi risiko penurunan harga dan mendukung kenaikan estimasi nilai wajar.

Seorang analis pasar yang dikutip oleh Kontan, Kamis (27/8/2026), menjelaskan mekanisme teknis di balik lonjakan harga tersebut. Ia menyebut bahwa intervensi likuiditas US Treasury telah melipatgandakan program pembelian kembali obligasi tenor panjang dari US2 miliar menjadi minimal US4 miliar per operasi, yang efektif sejak September 2026.

“Langkah ini secara de facto berfungsi sebagai injeksi likuiditas yang menahan lonjakan yield US Treasury tenor 10 tahun di area 4,69% hingga 4,70%,” jelasnya.

Dampaknya, kebijakan tersebut berhasil meredakan dislokasi pasar obligasi dan menahan kekuatan Indeks Dolar AS (DXY) agar tetap berada di bawah level 99,00. Kondisi makroekonomi inilah yang menciptakan lingkungan subur bagi kenaikan harga emas lebih lanjut. Beberapa analis bahkan memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai US$5.000 per troy ounce sebelum akhir tahun 2026.

Gelombang optimisme pasar global turut dirasakan oleh investor domestik. Harga emas Antam sempat menyentuh rekor tertinggi Rp2.750.000 per gram pada akhir Agustus 2026. Meskipun terjadi koreksi wajar di awal September ke level Rp2.664.000 per gram, prospek jangka panjang emas di Indonesia tetap dinilai solid.

Penguatan harga emas global juga berdampak positif pada kinerja saham-saham sektor pertambangan emas di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kombinasi dari beberapa faktor menjadi pendorong utama reli ini, yaitu:

Kebijakan buyback Treasury AS.

Pelemahan Dolar AS.

Turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Konsistennya pembelian emas oleh bank sentral global.

Meningkatnya permintaan aset safe-haven di tengah ketidakpastian geopolitik.

Bagi investor Indonesia, momentum ini menawarkan peluang strategis untuk mendiversifikasi portofolio investasi dengan memanfaatkan tren positif logam mulia, baik melalui kepemilikan fisik maupun instrumen pasar modal terkait.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.