KLIKINFOBERITA.COM,- Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, mulai menunjukkan tren positif. Namun, kabar menggembirakan ini belum dirasakan secara merata oleh seluruh petani. Pasalnya, dari sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi, hanya dua perusahaan yang berani membeli TBS dengan harga di atas Rp 3.000 per kilogram.
Kedua perusahaan tersebut adalah PT MPRA dan PT DDP. Masing-masing menetapkan harga pembelian TBS sebesar Rp 3.010 per kilogram. Sementara itu, PKS lainnya masih mematok harga di bawah angka Rp 3.000 per kilogram.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, harga pembelian TBS di sejumlah perusahaan masih menunjukkan perbedaan. PT SAPTA menetapkan harga Rp 2.940 per kilogram, PT USM Rp 2.920, PT KSM Rp 2.960, PT SAP Rp 2.990, PT SSS Rp 2.980, PT MMIL Rp 2.980, PT GSS Rp 2.940, PT BMK Rp 2.940, dan PT KAS Rp 2.980 per kilogram.
Informasi tersebut disampaikan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Ade Elyan Prasatya, dalam keterangannya di Mukomuko, Kamis (29/10/2026).
Ade mengatakan, harga TBS di tingkat pabrik tidak bersifat tetap dan dapat berubah sewaktu-waktu. Perubahan tersebut mengikuti perkembangan harga serta kebijakan pembelian masing-masing perusahaan.
Di tengah dinamika harga tersebut, Ade mengingatkan petani agar tidak hanya berorientasi pada jumlah produksi, tetapi juga memperhatikan kualitas buah yang dipanen. Tingkat kematangan TBS menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kualitas minyak sawit dan hasil pengolahan di pabrik.
Menurutnya, buah sawit yang dipanen pada tingkat kematangan optimal berpotensi menghasilkan crude palm oil (CPO) dan inti sawit (kernel) dengan kualitas serta rendemen yang lebih baik.
Selain menjaga kematangan buah, petani juga dianjurkan segera memasarkan hasil panen agar tidak terlalu lama menumpuk. Penundaan penjualan dapat berisiko menurunkan kualitas TBS. Sebaliknya, pemanenan buah yang masih mentah juga harus dihindari karena dapat memengaruhi mutu hasil produksi.
Tak hanya soal kualitas panen, Ade turut mengingatkan petani untuk lebih cermat dalam menentukan jalur penjualan. Selisih harga antara pembelian langsung oleh pabrik dan harga yang ditawarkan tengkulak atau tauke perlu diperhitungkan karena berpengaruh terhadap pendapatan petani.
“Kami akan terus memantau perkembangan harga buah kelapa sawit. Informasi harga ini tidak hanya disampaikan kepada petani, tetapi juga dilaporkan kepada tim penetapan harga TBS di tingkat Provinsi Bengkulu,” ujarnya.
Dengan harga tertinggi yang kini mencapai Rp 3.010 per kilogram, harapan terhadap membaiknya pendapatan petani sawit di Mukomuko mulai terbuka. Meski demikian, perbedaan harga antar-PKS masih menjadi perhatian, sehingga petani diharapkan terus memantau perkembangan harga dan menjaga kualitas hasil panen agar mendapatkan nilai jual yang lebih menguntungkan.








