Harga Emas Dunia Terkoreksi, Ekonomi AS Menguat dan Inflasi Tinggi Bayangi Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed

oleh -35 Dilihat
oleh
Ilustrasi —Harga emas dunia mengalami tekanan setelah pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat menguat dan inflasi meningkat. Spekulasi kenaikan suku bunga The Fed membayangi prospek investasi logam mulia global.-Foto : s.man/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Harga emas dunia kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Penguatan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang disertai inflasi tinggi memicu kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), terutama terkait kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember mendatang.

Tekanan tersebut membuat harga emas merosot setelah sebelumnya mencatat penguatan selama tiga sesi berturut-turut. Harga emas di pasar spot sempat terkoreksi sekitar 1,1 persen menjadi US$4.025,99 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas turun 0,4 persen ke level US$4.035,77 per ons.

Dalam perkembangan selanjutnya, Reuters melaporkan harga emas spot kembali melemah hingga 1,4 persen menjadi US$4.008,76 per ons. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar terhadap logam mulia masih dibayangi ketidakpastian kebijakan suku bunga AS.

Salah satu pemicu utama pelemahan emas berasal dari laporan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Data awal menunjukkan produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh 3,4 persen pada kuartal III 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2,2 persen pada kuartal sebelumnya sekaligus melampaui proyeksi pasar sebesar 3,2 persen.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa perekonomian AS masih memiliki daya tahan kuat. Konsumsi masyarakat dan investasi di sektor infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi, meskipun tekanan harga energi dan kebijakan tarif perdagangan masih membayangi.

Tidak hanya pertumbuhan ekonomi, perkembangan inflasi juga menjadi perhatian serius investor. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), yang menjadi salah satu indikator utama acuan The Fed dalam menentukan kebijakan moneter, tercatat meningkat 0,5 persen secara bulanan pada September. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,3 persen pada Agustus.

Secara tahunan, inflasi PCE mencapai 3,6 persen, meningkat dari posisi sebelumnya sebesar 3,4 persen. Sementara itu, PCE inti yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi naik 0,3 persen secara bulanan serta 3,1 persen secara tahunan.

Kenaikan harga bensin dan berbagai produk energi lainnya, yang mencapai 9,2 persen, turut memberikan dorongan terhadap tekanan inflasi. Situasi tersebut membuat pasar semakin mencermati kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga.

Sebelumnya, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan Oktober. Namun, keputusan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan spekulasi bahwa bank sentral AS itu dapat mengubah arah kebijakan pada pertemuan berikutnya yang dijadwalkan berlangsung 8–9 Desember.

Bagi pasar emas, prospek kenaikan suku bunga menjadi ancaman tersendiri. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga meningkat dan instrumen investasi berbunga menawarkan potensi keuntungan lebih besar.

Selain itu, penguatan dolar AS juga berpotensi memperbesar tekanan. Pasalnya, kenaikan nilai dolar membuat emas yang diperdagangkan menggunakan mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor dari negara lain, sehingga dapat menekan permintaan global.

Gejolak di pasar saham, terutama pada sektor teknologi dan perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, turut menambah ketidakpastian. Dalam kondisi pasar berfluktuasi, sebagian investor berpotensi melepas kepemilikan emas untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atau menutup kerugian pada instrumen investasi lainnya.

Meski demikian, peluang penguatan emas dalam jangka panjang belum sepenuhnya tertutup. Permintaan dari bank sentral berbagai negara serta ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor yang menopang prospek logam mulia.

Goldman Sachs memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral mencapai 79 ton pada Agustus, termasuk kontribusi pembelian dari China. Permintaan tersebut memperlihatkan bahwa emas masih memiliki posisi strategis sebagai aset cadangan dan instrumen diversifikasi investasi.

Ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan inflasi Amerika Serikat, kebijakan suku bunga The Fed, fluktuasi dolar, serta dinamika ekonomi dan geopolitik global.

Investor kini menghadapi dua sentimen yang saling berlawanan. Di satu sisi, ancaman suku bunga tinggi berpotensi menekan harga emas. Namun, di sisi lain, pembelian bank sentral dan ketidakpastian global masih memberikan dukungan terhadap permintaan logam mulia.(s.man)

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.