Harga Emas Dunia Tertekan Jelang Rapat The Fed, Investor Waspadai Arah Suku Bunga AS

oleh -43 Dilihat
oleh
Ilustrasi —Harga emas dunia tertekan mendekati level terendah tiga bulan menjelang rapat The Fed. Investor mencermati arah suku bunga AS yang berpotensi menentukan pergerakan logam mulia.-Foto :Istimewa, Aisya/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Harga emas dunia masih berada di bawah tekanan dan bertahan di dekat level terendah dalam tiga bulan pada perdagangan Senin (26/10/2026). Investor cenderung berhati-hati menjelang rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) pekan ini, yang diperkirakan memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi.

Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 3.987,45 per ons troi pada pukul 00.37 GMT. Pada sesi sebelumnya, harga logam mulia tersebut sempat menyentuh level terendah sejak pertengahan Juli.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif harga emas setelah mencatatkan penurunan sekitar 4% sepanjang pekan lalu hingga Jumat (23/10/2026). Koreksi tersebut menjadi penurunan mingguan terdalam sejak Juni. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 0,2% menjadi US$ 4.000,80 per ons troi.

Tekanan terhadap harga emas terutama dipicu oleh ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama. Kondisi ini membuat investor mencermati perkembangan inflasi dan sinyal kebijakan moneter The Fed sebelum menentukan langkah investasi berikutnya.

Kekhawatiran inflasi turut meningkat seiring gejolak harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong biaya produksi dan transportasi, sehingga memperbesar risiko tekanan harga bertahan lebih lama.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika suku bunga tinggi, aset berbunga cenderung lebih menarik bagi investor karena menawarkan pendapatan. Akibatnya, biaya peluang untuk memegang emas meningkat dan dapat membatasi permintaan terhadap logam mulia tersebut.

Di pasar energi, harga minyak terkoreksi pada Senin setelah melonjak mendekati level tertinggi dalam enam bulan pada akhir pekan sebelumnya. Meski demikian, risiko gangguan pasokan masih membayangi pasar menyusul serangan terhadap fasilitas di Arab Saudi.

Arab Saudi menyatakan dua terminal di bandara utamanya telah kembali beroperasi pada Minggu. Namun, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman menyatakan akan melanjutkan serangan terhadap fasilitas tersebut, yang mereka klaim sebagai target militer.

Di tengah ketegangan tersebut, upaya diplomatik untuk meredakan konflik regional terus berlangsung. Para mediator Qatar dilaporkan berada di Teheran pada Minggu untuk mendorong deeskalasi, dengan berkoordinasi bersama Amerika Serikat, menurut seorang pejabat yang mengetahui situasi tersebut kepada Reuters.

Selain perkembangan geopolitik, kondisi ekonomi AS juga menjadi perhatian pelaku pasar. Sentimen konsumen merosot mendekati level terendah sepanjang sejarah pada Oktober, seiring kenaikan harga yang dipicu konflik di Timur Tengah. Kondisi ini memperburuk pandangan rumah tangga terhadap perekonomian menjelang pemilihan paruh waktu Kongres AS.

Sementara itu, aktivitas bisnis AS melambat secara moderat pada Oktober. Meski demikian, permintaan yang masih kuat memberi ruang bagi perusahaan untuk menaikkan harga barang dan jasa. Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan inflasi berpotensi kembali meningkat dan bertahan lebih lama.

Perkembangan ini membuat keputusan The Fed menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah harga emas dalam waktu dekat. Investor kini menantikan hasil rapat kebijakan bank sentral AS yang dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober, sekaligus mencermati rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE).

PCE merupakan salah satu indikator utama yang digunakan The Fed untuk menilai perkembangan inflasi dalam upaya mencapai target 2%. Data tersebut dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai tekanan harga dan ruang bagi bank sentral untuk mengubah arah kebijakan moneternya.

Berdasarkan perkiraan pasar dalam naskah sumber, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan pekan ini berada di sekitar 9%. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 80%. Angka tersebut mencerminkan ekspektasi pelaku pasar dan bukan keputusan resmi The Fed.

Apabila bank sentral memberi sinyal bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama, harga emas berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, sinyal pelonggaran kebijakan dapat meningkatkan daya tarik emas dan membuka peluang pemulihan harga.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,2% menjadi US$ 54 per ons troi. Sebaliknya, platinum turun 0,1% menjadi US$ 1.549,42 per ons troi, sedangkan paladium menguat 0,4% menjadi US$ 1.047,90 per ons troi.

Dengan demikian, pergerakan harga emas selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh hasil rapat The Fed, perkembangan inflasi AS, dan situasi geopolitik di Timur Tengah. Ketiga faktor tersebut akan menjadi perhatian investor dalam menilai prospek logam mulia di tengah ketidakpastian pasar global.(Aisya)

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.