Harga Emas Dunia Melonjak Satu Persen, Tantangan Berat Mengintai di Ujung Tanduk

oleh -23 Dilihat
oleh
Harga emas dunia melonjak satu persen menembus 4400 dolar AS, meski tertekan penguatan mata uang dan antisipasi kenaikan suku bunga bank sentral AS.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Harga emas dunia berhasil mencatatkan reli impresif dengan melonjak lebih dari satu persen pada perdagangan Rabu (9/9/2026), sekaligus memutus tren pelemahan tiga hari berturut-turut. Kendati demikian, euforia penguatan ini tidak berlangsung lama di tengah dinamika pasar yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian. Logam mulia kuning kini diproyeksikan harus menghadapi badai tantangan besar seiring dengan kembalinya tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat dan antisipasi kebijakan moneter The Fed.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas ditutup pada posisi US4.400,49 per troy ons, atau melesat sebesar 1,06 persen pada penutupan perdagangan Rabu. Kenaikan ini menjadi sinyal positif setelah sebelumnya anjlok 2,7 persen dalam tiga sesi beruntun. Namun, momentum penguatan tersebut langsung kehilangan tenaga secara signifikan pada awal perdagangan Kamis (10/9/2026). Tercatat pada pukul 06.47 WIB, harga emas terpantau terkoreksi tipis 0,16 persen ke level US4.393,28 per troy ons.

David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menyebutkan bahwa pasar emas sempat mendapat sentimen positif akibat pelemahan dolar AS yang berada di titik terendah dua pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Selain itu, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah menembus US$100 per barel turut memberikan dukungan psikologis kuat bagi aset safe haven.

Akan tetapi, angin segar tersebut kini berbalik arah. Indeks dolar AS mulai merangkak naik dari level 98,78 menjadi 98,82. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah US Treasury juga mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Rhona O’Connell, Kepala Analisis Pasar di StoneX, memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak memicu inflasi melalui biaya angkutan dan gangguan rantai pasok. Hal ini memaksa kebijakan moneter lebih fokus pada pengendalian inflasi, yang secara otomatis mendongkrak imbal hasil obligasi dan membuat emas yang tidak memberikan bunga menjadi kurang menarik.

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah terus menjadi variabel yang sulit diprediksi. Serangan terhadap infrastruktur energi dan jalur logistik utama telah menciptakan kelangkaan pasokan yang mendorong harga komoditas global meroket. Para analis memperingatkan bahwa jika ketegangan geopolitik ini terus berlanjut, bank sentral di berbagai negara maju akan terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diharapkan. Skenario ini tentu akan memberikan tekanan ganda bagi emas, di mana biaya peluang memegang aset non-yielding akan semakin membengkak di tengah lingkungan suku bunga yang ketat.

Fokus utama pasar kini tertuju pada rilis data makroekonomi AS. Investor menunggu rilis data Producer Price Index (PPI) pada hari Kamis dan data inflasi konsumen (CPI) pada hari Jumat. Kedua indikator vital ini akan menjadi kompas bagi The Fed dalam merumuskan respons terhadap tekanan harga.

Ketegangan semakin memuncak ketika berdasarkan pantauan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan adanya probabilitas sebesar 60 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed pekan depan. Jika dolar AS dan imbal hasil Treasury terus menguat, bayang-bayang koreksi dalam terhadap harga emas tidak lagi bisa dihindari oleh para pelaku pasar global dalam waktu dekat. Para investor disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas ekstrem yang berpotensi terjadi sepanjang akhir pekan ini.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.