Harga Emas Antam Stagnan, Spread Rp 165.000 per Gram Jadi Perhatian Investor

oleh -49 Dilihat
oleh
Harga emas Antam stagnan di Rp 2.638.000/gram, buyback Rp 2.473.000. Spread Rp 165.000 jadi perhatian investor. Cocok untuk investasi jangka panjang, bukan trading harian.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Pada perdagangan Minggu (20/9/2026), harga emas batangan bersertifikat produksi PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) di gerai Logam Mulia tercatat stagnan di level Rp 2.638.000 per gram, sama seperti posisi pada Sabtu (19/9/2026) sebelumnya. Di sisi lain, harga beli kembali (buyback) juga tidak berubah, yakni Rp 2.473.000 per gram.

Berdasarkan data resmi Logam Mulia Antam, berikut rincian harga emas batangan per 20 September 2026:

Selisih sebesar Rp 165.000 per gram ini merupakan jarak antara harga saat investor membeli emas dari Antam dan harga saat menjual kembali emas tersebut ke gerai Logam Mulia. Dalam praktik, harga yang tercantum sebagai “harga emas” adalah harga beli konsumen dari Antam, sedangkan “harga buyback” adalah harga yang diterima konsumen ketika menjual kembali emasnya ke Antam.

Kondisi ini penting dicermati oleh siapa pun yang serius menjadikan emas batangan sebagai instrumen investasi. Tanpa memperhitungkan selisih harga jual dan buyback, seorang investor berpotensi salah menghitung potensi untung rugi.

Sebagai ilustrasi, jika seseorang membeli emas Antam pada pagi hari seharga Rp 2.638.000 per gram, lalu karena kebutuhan mendesak terpaksa menjualnya kembali pada siang atau sore hari yang sama, maka emas tersebut hanya akan dihargai Rp 2.473.000 per gram. Artinya, dalam hitungan jam, nilai asetnya sudah “terpotong” Rp 165.000 per gram hanya karena mekanisme spread harga.

Secara mingguan, harga emas Antam sebenarnya mengalami penguatan. Dalam sepekan terakhir, harga emas Antam naik Rp 34.000 per gram, dari Rp 2.604.000 pada Senin (14/9/2026) menjadi Rp 2.638.000 pada Minggu (20/9/2026). Sementara itu, harga buyback juga menguat Rp 19.000 per gram dalam periode yang sama, dari Rp 2.454.000 menjadi Rp 2.473.000 per gram.

Kenaikan ini terjadi setelah tren penguatan selama beberapa hari berturut-turut, sebelum akhirnya harga stabil di akhir pekan.

Dengan spread setebal Rp 165.000 per gram, emas batangan secara umum lebih cocok untuk investasi jangka panjang. Investor perlu menunggu kenaikan harga yang cukup signifikan agar mampu menutup selisih jual–buyback sekaligus menghasilkan laba.

Sebagai gambaran, berikut potensi laba/rugi jika investor membeli emas Antam pada berbagai periode lalu menjualnya pada harga buyback 20 September 2026:

13 September 2026 (harga beli Rp 2.604.000): rugi sekitar 5,03%

20 Agustus 2026 (Rp 2.725.000): rugi sekitar 9,25%

20 Juni 2026 (Rp 2.668.000): rugi sekitar 7,31%

20 Maret 2026 (Rp 2.893.000): rugi sekitar 14,52%

20 Desember 2025 (Rp 2.491.000): rugi sekitar 0,72%

20 September 2025 (Rp 2.122.000): untung sekitar 16,54%

20 Juni 2025 (Rp 1.936.000): untung sekitar 27,74%

20 Maret 2025 (Rp 1.774.000): untung sekitar 39,40%

20 Desember 2024 (Rp 1.515.000): untung sekitar 63,23%

Data ini menunjukkan bahwa investor yang masuk pada akhir 2024 hingga pertengahan 2025 masih mencatatkan keuntungan signifikan, sementara pembelian dalam beberapa bulan terakhir cenderung masih mengalami kerugian jika dijual pada level buyback saat ini.

Pajak dan Biaya Tambahan yang Perlu Diperhitungkan

Selain spread, investor juga perlu memperhatikan aspek perpajakan. Untuk pembelian emas Antam, terdapat PPh 0,25% yang dibebankan atas transaksi. Dengan harga dasar Rp 2.638.000 per gram, setelah ditambah PPh 0,25%, harga efektif yang dibayar pembeli menjadi sekitar Rp 2.644.595 per gram.

Sementara untuk penjualan (buyback), jika nilai transaksi melebihi Rp 10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5% bagi pemilik NPWP dan 3% bagi yang tidak memiliki NPWP. Biaya dan pajak ini semakin menegaskan bahwa emas batangan lebih optimal sebagai instrumen investasi jangka menengah hingga panjang, bukan untuk trading harian.

Mengingat kondisi tersebut, beberapa langkah yang bisa diambil investor emas batangan antara lain:

Memastikan horizon investasi minimal 1–2 tahun agar kenaikan harga mampu menutup spread dan biaya transaksi.

Memanfaatkan momentum pembelian saat harga relatif rendah dalam tren jangka panjang.

Tidak terburu-buru menjual emas kecuali dalam kondisi sangat mendesak, karena potensi rugi jangka pendek cukup besar.

Memperhitungkan total biaya (spread + pajak) saat menghitung target harga jual minimal agar tidak rugi.

Dengan pendekatan yang lebih strategis dan perhitungan yang cermat, emas batangan Antam tetap dapat menjadi salah satu pilihan investasi yang relatif aman dan likuid, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.