Tiga Biang Kerok Sepinya SD Negeri Menurut Mu’ti

oleh -48 Dilihat
oleh
SD Negeri sepi: ruang kelas kosong, guru gigih tetap mengajar. Pemerataan sekolah tak berarti murid bertambah waktu untuk rekonstruksi: penggabungan, redistribusi guru, dan peningkatan kualitas.-Foto:s.man/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,– Dunia pendidikan dasar Indonesia sedang menghadapi fenomena yang tak biasa. Ratusan Sekolah Dasar Negeri di berbagai daerah tercatat hanya memiliki murid di bawah 60 bahkan 100 orang. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengungkapkan ada tiga penyebab utama mengapa minat siswa bersekolah di SD Negeri terus menyusut.

Temuan ini diperoleh setelah Kementerian Dikdasmen melakukan pendataan menyeluruh terhadap sekolah-sekolah jenjang SD dan SMP yang jumlah muridnya minim. Data tersebut menjadi pijakan bagi pemerintah untuk mengevaluasi ulang kebijakan pemerataan pendidikan selama ini.

“Dalam pengamatan kami, penyebabnya ada tiga. Yang pertama, memang ada keterbatasan jumlah anak usia sekolah, khususnya anak-anak SD,” kata Mu’ti di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Selasa (4/8/2026). Faktor demografi ini, menurutnya, tak bisa dipungkiri seiring menurunnya angka kelahiran nasional dalam beberapa tahun terakhir.

Penyebab kedua tak kalah menarik. Mu’ti mengungkapkan bahwa sepinya peminat SD Negeri juga disebabkan oleh banyaknya sekolah dasar yang dibangun di masa pemerintahan Presiden ke-2 RI, Soeharto. Saat itu, program SD Inpres digalakkan untuk menuntaskan buta aksara dan mengejar pemenuhan pendidikan dasar secara masif.

“Sehingga setiap desa itu minimal punya satu sekolah dasar. Bahkan di desa yang sebelumnya sudah memiliki sekolah, ditambah lagi dengan SD Inpres. Akibatnya, satu desa bisa memiliki lebih dari satu sekolah dasar. Jumlahnya menjadi sangat banyak, sementara jumlah anak tidak bertambah,” ucapnya.

Penyebab ketiga menyentuh perubahan gaya hidup keluarga masa kini. Mu’ti menyoroti tren di kalangan keluarga muda yang kini lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Alasan yang beragam, mulai dari fasilitas lebih lengkap, pendekatan pembelajaran berbasis teknologi, hingga citra sekolah swasta yang dianggap lebih modern.

Kondisi ini menjadi sinyal alarm bagi Kementerian Dikdasmen. Ke depan, Mu’ti menegaskan perlunya redistribusi guru, penggabungan sekolah imbas, serta peningkatan kualitas SD Negeri agar tetap menjadi pilihan utama masyarakat. “Kami tidak ingin sekolah negeri hanya jadi pilihan terakhir,” tutupnya tegas.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.