Tradisi Mbin Cupik Mai Bioa Jadi Sorotan Festival Berendo Budayo 2026 di Kepahiang

oleh -58 Dilihat
oleh
Tradisi Mbin Cupik Mai Bioa menjadi sorotan Festival Berendo Budayo 2026 di Kepahiang. Warisan leluhur suku Rejang ini terus dijaga agar tetap lestari dan dikenal generasi mendatang.- Foto : Ansori/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Tradisi mbin cupik mai bioa, prosesi memandikan bayi berusia 40 hari yang diwariskan masyarakat Rejang, menjadi salah satu sorotan dalam Festival Berendo Budayo 2026 di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Tradisi yang sarat makna syukur dan doa keselamatan tersebut diangkat sebagai upaya menjaga warisan leluhur agar tetap lestari di tengah arus modernisasi.

Festival yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu itu berlangsung di pelataran Kantor Bupati Kepahiang, Jumat (16/10). Mengusung tema “Merawat Budaya, Menjaga Identitas Kepahiang”, kegiatan tersebut menghadirkan beragam tradisi, kesenian, dan kearifan lokal masyarakat Rejang.

Bupati Kepahiang, H. Zurdi Nata, S.IP., menyambut baik penyelenggaraan festival tersebut. Ia menegaskan, kekayaan budaya daerah merupakan warisan berharga yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menurut Zurdi, tradisi mbin cupik mai bioa memiliki nilai budaya yang penting bagi masyarakat setempat. Penetapannya sebagai warisan budaya takbenda menjadi salah satu upaya untuk memastikan tradisi tersebut tetap dikenal dan dilestarikan.

“Tradisi ini harus tetap dijaga agar tidak hilang. Oleh karena itu, mbin cupik mai bioa telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda agar dapat terus diwariskan kepada anak cucu kita,” kata Zurdi.

Ia mengakui, perkembangan teknologi dan maraknya budaya populer menjadi tantangan tersendiri dalam pelestarian adat istiadat. Karena itu, pengenalan budaya lokal perlu dilakukan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Zurdi menilai, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan tradisi Rejang kepada khalayak yang lebih luas. Pelajar dan generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut berperan dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah.

“Dengan adanya pagelaran ini, anak-anak yang biasa bermain media sosial seperti TikTok juga bisa menjadikannya sebagai konten, sehingga budaya Kabupaten Kepahiang dapat dikenal lebih luas,” ujarnya.

Selain pertunjukan teater tradisi mbin cupik mai bioa, festival tersebut menampilkan demonstrasi pembuatan bokoa ibeun atau tempat sirih khas suku Rejang, pertunjukan kesenian dari sejumlah sanggar, tradisi ngidang, serta pameran kuliner.

Zurdi berharap Festival Berendo Budayo dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun sehingga menjadi ruang edukasi sekaligus wadah bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan budaya daerah.

Melalui festival ini, pelestarian tradisi Rejang diharapkan tidak berhenti pada pertunjukan seremonial, tetapi terus hidup dalam masyarakat dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian penting dari identitas Kabupaten Kepahiang.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.