Selai Gula Batu: Tren Kuliner Sehat atau Sekadar Pemanis Biasa

oleh -95 Dilihat
oleh
Selai gula batu tampil menggiurkan: tekstur lembap, rasa manis lembut. Inovasi untuk roti pagi, tapi ingat batas konsumsi gula tetap gula, nikmati secukupnya setiap hari.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Dalam dunia kuliner, inovasi terus bermunculan untuk menciptakan cita rasa baru yang lebih menarik. Salah satu tren yang mulai mencuri perhatian adalah penggunaan gula batu sebagai bahan dasar pembuatan selai. Jika selama ini gula pasir menjadi primadona, kini gula batu hadir sebagai alternatif yang dianggap memiliki sejumlah keunggulan.

Gula batu, yang merupakan kristal gula dari hasil pemadatan larutan gula, memiliki karakteristik rasa manis yang cenderung lebih lembut dibandingkan gula pasir. Para penggemar kuliner rumahan mulai melirik gula batu untuk membuat selai dari berbagai bahan, seperti nanas atau kumquat.

Selai dari gula batu dipercaya memiliki tekstur yang lebih baik. Menurut resep yang beredar, gula batu dinilai lebih baik untuk memberikan efek lembap pada selai buah, sehingga menghasilkan konsistensi yang pas saat dioleskan di atas roti. Proses pembuatannya pun tidak jauh berbeda, gula batu perlu dihancurkan kasar terlebih dahulu sebelum dimasak bersama buah dan air perasan lemon hingga mengental.

Lantas, apakah selai berbahan gula batu lebih sehat? Pertanyaan ini menjadi perdebatan. Beredar anggapan di masyarakat bahwa gula batu lebih bersahabat bagi organ tubuh karena dianggap lebih mudah diubah menjadi energi. Namun, para ahli kesehatan justru memberikan pandangan berbeda.

Dokter Devia Irine Putri menjelaskan bahwa secara nutrisi, tidak ada perbedaan signifikan antara gula batu dan gula pasir. “Kandungan nutrisinya juga hampir sama. Biasanya selisih sedikit, tidak sampai banyak,” ujarnya. Kandungan sukrosa pada gula batu sekitar 99,7 gram, hampir setara dengan gula pasir yang mencapai 99,98 gram.

Yang perlu diwaspadai adalah risiko konsumsi berlebihan. Sama seperti gula lainnya, mengonsumsi gula batu secara berlebihan dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti kenaikan berat badan, gangguan fungsi liver, hingga penyakit diabetes. Risiko ini semakin besar mengingat rasa manis gula batu yang cenderung tidak terlalu tajam seringkali membuat orang tanpa sadar menambah takarannya.

Meski begitu, gula batu tetap memiliki tempat tersendiri dalam pengobatan tradisional untuk meredakan batuk atau flu. Namun, sekali lagi, khasiat ini lebih seringu dikaitkan dengan bahan herbal pendampingnya, bukan karena gula batu itu sendiri.

tren selai gula batu menawarkan pengalaman kuliner baru yang menarik. Namun dari sisi kesehatan, gula batu tetaplah gula. Anjuran konsumsi gula harian tetap berlaku, yaitu maksimal 30 gram atau sekitar 7 sendok teh per hari. Inovasi boleh dicoba, namun konsumsi tetap harus dengan bijak.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.