Rupiah Rebound 80 Poin Sepekan, Sentimen The Fed Mereda

oleh -69 Dilihat
oleh
Rupiah menguat 80 poin (0,45%) dalam sepekan (31/8–4/9/2026), dari Rp17.722 ke Rp17.642/USD, didorong meredanya tekanan suku bunga The Fed. Pekan depan, rupiah diprediksi fluktuatif di rentang Rp17.550–Rp17.850, dengan Selat Hormuz dan harga minyak jadi faktor kunci.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA COM,- Selama periode 31 Agustus hingga 4 September 2026, mata uang Garuda bergerak dari Rp17.722 menjadi Rp17.642 per dolar AS. Awalnya, rupiah justru tertekan: pada Senin (31/8) dibuka melemah 55 poin ke Rp17.748 dan ditutup di Rp17.722. Sehari kemudian, Selasa (1/9), rupiah sempat dibuka menguat 9 poin ke Rp17.713, namun kembali ditutup melemah 22 poin ke Rp17.744.

Tekanan berlanjut pada Rabu (2/9) dengan pembukaan di Rp17.774 dan penutupan di Rp17.763. Tren berbalik pada Kamis (3/9), ketika rupiah dibuka menguat 18 poin ke Rp17.745 dan ditutup menguat signifikan 84 poin ke Rp17.679. Momentum positif berlanjut hingga Jumat (4/9): dibuka di Rp17.632 dan ditutup di Rp17.642 per dolar AS.
Secara mingguan, penguatan tipis itu ditopang meredanya spekulasi kenaikan suku bunga The Fed yang sebelumnya memberatkan mata uang emerging market.

Untuk pekan depan, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.640–Rp17.690 pada Senin, dan berfluktuasi lebih lebar di rentang Rp17.550–Rp17.850 sepanjang sepekan.

Ibrahim menyoroti ketegangan di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, sebagai faktor utama yang masih membebani pasar. “Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama para pelaku pasar. Iran telah memperluas pembatasan pelayaran internasional di jalur perairan tersebut, sehingga memicu kekhawatiran bahwa gangguan dapat terus berlanjut dan memperketat pasokan di pasar minyak global,” paparnya, Jumat (4/9/2026).

Kenaikan harga minyak berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Di sisi lain, sinyal dovish The Fed yang mulai mereda memberi ruang bagi rupiah untuk bertahan, meski pergerakan tetap waspada terhadap sentimen eksternal.

Pelaku pasar disarankan mencermati data ekonomi domestik, kebijakan bank sentral, serta perkembangan geopolitik di Selat Hormuz yang dapat menjadi katalis pergerakan rupiah pada pekan perdagangan mendatang.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.