Rupiah Menguat, Cadev RI Diproyeksi Capai US$ 147,5 Miliar di Akhir 2026

oleh -12 Dilihat
oleh
Rupiah menguat, cadangan devisa RI diproyeksi capai US$ 147,5 miliar akhir 2026. Fundamental eksternal tetap kuat, buffer impor aman di 5,4 bulan, siap hadapi volatilitas global dengan sehat.-Foto : Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini menjadi sentimen positif bagi prospek cadangan devisa Indonesia. Namun, Lead Economist Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz menegaskan bahwa penguatan rupiah tidak serta-merta mendorong cadangan devisa terus meningkat.

Sepanjang Agustus 2026, rupiah tercatat menguat 1,66 persen. Pada 31 Agustus 2026, kurs rupiah di pasar spot bertengger di level Rp17.722 per dolar AS, membaik dari posisi akhir Juli yang berada di Rp18.022 per dolar AS. Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tercatat mencapai 146,5 miliar dolar AS, meningkat dari 145,3 miliar dolar AS pada Juli 2026.

Irman Faiz menilai, penguatan rupiah cukup positif bagi prospek cadangan devisa karena dapat mengurangi kebutuhan intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing. Kendati demikian, pergerakan cadangan devisa tetap dipengaruhi oleh arus modal asing, transaksi perdagangan, hingga pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Memasuki September 2026, cadangan devisa diperkirakan relatif stabil dengan kecenderungan sedikit menurun. Kondisi ini tidak lepas dari kenaikan harga minyak global yang berpotensi menekan neraca perdagangan. Selain itu, kebutuhan valuta asing domestik masih tinggi untuk memenuhi impor, sementara transaksi berjalan pada kuartal II-2026 masih mencatat defisit 12,5 miliar dolar AS atau setara 3,3 persen dari PDB.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Irman memproyeksikan cadangan devisa pada akhir 2026 akan berada di kisaran 147,5 miliar dolar AS. Pemulihan ini terjadi secara gradual dan belum kembali ke level 156,5 miliar dolar AS pada akhir 2025.

Ke depan, arah cadangan devisa akan sangat ditentukan oleh sentimen risiko global, khususnya kebijakan The Fed dan imbal hasil US Treasury. Faktor kedua adalah perkembangan neraca eksternal domestik, termasuk neraca perdagangan dan posisi transaksi berjalan. Terakhir, kebutuhan stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia serta transaksi valuta asing pemerintah turut memengaruhi posisi cadangan devisa.

Langkah antisipatif terus dilakukan oleh Bank Indonesia melalui penguatan kebijakan makroprudensial. Sinergi antara pemerintah dan bank sentral juga terus dijaga untuk memastikan likuiditas dolar AS di dalam negeri tetap terjaga. Hal ini penting agar tekanan dari eksternal tidak langsung berdampak pada pelemahan nilai tukar secara signifikan.

Meskipun demikian, fundamental cadangan devisa Indonesia saat ini masih dinilai cukup kuat. Posisi 146,5 miliar dolar AS setara dengan 5,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional yaitu tiga bulan impor. Irman menegaskan bahwa fokus utama bukanlah kenaikan cadangan devisa setiap bulan, melainkan kecukupan levelnya untuk menyerap volatilitas eksternal. Sejauh ini, buffer tersebut masih sangat sehat dan memadai untuk menjaga stabilitas makroekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Dengan demikian, ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap terjamin secara optimal. Para investor asing di pasar modal pun kini diyakini akan terus melirik aset finansial di tanah air, mengingat fundamental ekonomi yang kokoh serta komitmen kuat dari otoritas terkait dalam menjaga keseimbangan pasar keuangan domestik.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.