KLIKINFOBERITA.COM,- Air mata haru mengiringi kembalinya 384 jemaah haji Kloter 4 Padang ke Asrama Haji Bengkulu pada Senin (8/6) pagi. Akan tetapi, di balik sukacita itu, Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi menyimpan cerita menyedihkan mengenai perjuangan fisik para lansia saat mereka berpindah dari Muzdalifah menuju Mina.
Dedy yang tiba bersama kelompoknya pada pukul 01. 00 WIB langsung disambut oleh keluarga dan pejabat setempat. Tiga ratus delapan puluh empat jemaah berangkat dalam kloter yang sama dengan Dedy dan istrinya. Kepala Kantor Wilayah Kemenag Bengkulu, wakil provinsi, dan pejabat dari Pemkot Bengkulu juga hadir untuk menyambut.
Di balik pelaksanaan ibadah yang khusyuk, Dedy membagikan pengalaman yang paling mengesankan ketika mobilisasi setelah wukuf. Kerumunan jemaah dan keterbatasan transportasi membuat banyak orang, terutama yang lanjut usia, harus menunggu dalam keadaan lelah. “Beberapa di antara mereka sampai pingsan. Kita yang muda saja merasa berat, apalagi mereka,” kata Dedy dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Selama berada di Tanah Suci, Dedy tidak hanya berkonsentrasi pada ibadah. Saat dokter kloter tidak bisa hadir dan banyak jemaah yang mengalami batuk, flu, serta kelelahan, ia mengonversi kamarnya di hotel menjadi posko kesehatan darurat. Bersama petugas medis, ia melakukan kunjungan ke setiap kamar untuk memastikan jemaah lansia mendapatkan perawatan yang mendesak.
“Saya menyaksikan langsung perjuangan mereka. Mereka memerlukan perhatian agar ibadah mereka tidak terhambat,” tegasnya.
Dedy merasa bersyukur bahwa sebagian besar jemaah pulang dalam kondisi sehat, bahkan banyak yang mengalami kenaikan berat badan berkat pemenuhan konsumsi yang terjamin. Namun, kesedihan meliputi karena dua jemaah asal Kota Bengkulu dan Bengkulu Utara meninggal di Tanah Suci. Jumlah jemaah yang berangkat adalah 386 orang.
Peristiwa ini memberi pelajaran berharga. Dedy mengingatkan masyarakat untuk tidak memaksakan keberangkatan jika kesehatan mereka belum memenuhi syarat istitaah. “Jika kondisinya belum memungkinkan, jangan dipaksakan. Kita tidak ingin keluarga kita mengalami kesulitan saat melaksanakan ibadah di sana,” pesannya.
Kini perjalanan spiritual telah usai. Namun bagi para jemaah, Dedy Wahyudi tidak hanya akan dikenang sebagi kepala daerah yang berhaji, tetapi juga sebagai pendamping yang hadir di tengah ketegangan saat menjalankan rukun Islam yang kelima.







