KLIKINFOBERITA.COM,- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali membuka perdagangan Jumat (2/10/2026) dengan penguatan. Mata uang Garuda bergerak ke level Rp17.944 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB, menguat 22 poin atau 0,12 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan Kamis (1/10) sebesar Rp17.966 per dolar AS.
Berdasarkan analisis Doo Financial Futures, rupiah pada perdagangan Kamis ditutup terkoreksi 72 poin atau 0,40 persen menjadi Rp17.966 per dolar AS.
Pada Jumat pagi, indeks dolar AS terpantau relatif stagnan di level 102,10. Pergerakan rupiah tetap menjadi perhatian pelaku pasar setelah mata uang Garuda sebelumnya melemah bersama mayoritas mata uang kawasan Asia.
Tekanan regional pada perdagangan Kamis tercermin dari pelemahan yen Jepang sebesar 0,60 persen, dolar Taiwan 0,51 persen, rupee India 0,35 persen, baht Thailand 0,34 persen, dan won Korea Selatan 0,31 persen. Dolar Singapura melemah 0,24 persen, peso Filipina 0,23 persen, sedangkan ringgit Malaysia turun 0,13 persen. Hanya yuan China yang mencatat penguatan 0,02 persen. Dolar Hong Kong cenderung stagnan.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi memberikan sinyal positif. Data perdagangan Indonesia tercatat kuat dari perkiraan, sementara tingkat inflasi juga berada di bawah ekspektasi. Namun, kedua faktor tersebut belum cukup kuat menopang rupiah ketika sentimen pasar global dan domestik bergerak berlawanan.
Lukman menilai sentimen risk off di pasar domestik turut membebani rupiah. Sikap hati-hati investor meningkat menyusul respons negatif terhadap isu reshuffle kabinet. Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih selektif dalam menempatkan dana.
Untuk perdagangan Jumat, Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak di bawah tekanan. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah berada dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS. Pergerakan tersebut akan dipengaruhi perkembangan dolar AS, imbal hasil Treasury, serta respons investor terhadap sentimen domestik.
Pelaku pasar mencermati agenda ekonomi Amerika Serikat, rilis data manufaktur PMI ISM. Selain itu, pasar mengantisipasi pernyataan pejabat Federal Reserve yang memberikan petunjuk tentang arah kebijakan moneter AS.
Di sisi lain, ruang intervensi Bank Indonesia (BI) tetap menjadi perhatian pasar. Kebijakan stabilisasi melalui pasar valuta asing dapat memengaruhi dinamika rupiah ketika tekanan eksternal meningkat.
Data BI yang diperbarui 2 Oktober 2026 menunjukkan kurs transaksi resmi untuk dolar AS berada pada kurs jual Rp18.026,69 dan kurs beli Rp17.847,31. Angka tersebut menjadi referensi transaksi.
Dengan pembukaan di Rp17.944, rupiah masih perlu mencermati sentimen sepanjang sesi Jumat. Penguatan pada awal perdagangan menjadi sinyal pergerakan sementara, sementara arah berikutnya tetap bergantung pada kondisi pasar global, data ekonomi AS, dan respons investor terhadap perkembangan domestik.







