KLIKINFOBERITA.COM,- Masa depan demokrasi Indonesia sangat bergantung pada kualitas partisipasi generasi muda. Menyadari hal tersebut, Komisi Pemilihan Umum (KPU) secara intensif menggandeng kalangan mahasiswa untuk menjadi ujung tombak dalam menjaga integritas pemilu. Hal ini ditegaskan oleh Anggota KPU, Betty Epsilon Idroos, saat menjadi narasumber utama dalam Seminar dan Talkshow bertajuk “Membangun Kesadaran Demokrasi Mahasiswa: Budaya Politik yang Kritis, Cerdas, dan Berintegritas”. Acara yang digelar dalam rangka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun 2026 di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (5/9), itu menjadi momentum strategis untuk menanamkan nilai-nilai kenegaraan sejak dini.
Betty menekankan bahwa peran anak muda tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Mereka bukan sekadar objek statistik pemilih, melainkan subjek aktif yang menentukan arah bangsa. Dalam paparannya, Betty menyampaikan pesan kunci yang mendalam mengenai posisi strategis generasi milenial dan Gen Z dalam kontestasi politik masa depan, khususnya menuju Pemilu 2029.
“Anak muda memiliki peran strategis dalam Pemilu 2029, tidak hanya sebagai pemilih cerdas, tetapi juga sebagai agen literasi demokrasi, penangkal hoaks, pengawas partisipatif, serta jembatan dialog untuk mendorong terciptanya demokrasi yang sehat, kritis, dan berintegritas,” ujar Betty di hadapan ratusan mahasiswa baru yang antusias.
Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa tanggung jawab mahasiswa melampaui batas bilik suara. Mereka diharapkan mampu memfilter arus informasi digital yang sering kali dipenuhi disinformasi. Sebagai agen literasi, mahasiswa dituntut untuk mampu membedakan fakta dari opini serta menyebarkan edukasi kepemiluan kepada lingkungan sosial mereka. Selain itu, fungsi sebagai pengawas partisipatif意味着 mahasiswa harus proaktif melaporkan adanya pelanggaran atau ketidakberesan dalam proses tahapan pemilu, sehingga penyelenggaraan pemilu dapat berjalan adil dan transparan.
Untuk mendukung peran tersebut, KPU tidak hanya memberikan teori, tetapi juga memperkenalkan alat bantu teknologi yang praktis. Betty mengajak para mahasiswa untuk secara aktif memanfaatkan layanan Cek DPT Online melalui situs resmi cekdptonline.kpu.go.id. Langkah ini krusial untuk memastikan hak konstitusional mereka tercatat dengan benar dalam daftar pemilih tetap. Ketepatan data menjadi fondasi utama legitimasi hasil pemilu.
Selain verifikasi data pribadi, mahasiswa juga didorong untuk memahami lanskap politik berbasis wilayah. Betty memperkenalkan platform satupetadata.kpu.go.id sebagai sumber informasi resmi yang terintegrasi. Melalui portal ini, mahasiswa dapat mengakses data geografis dan demografis pemilih yang akurat. Lebih jauh lagi, bagi mereka yang tertarik pada analisis data, KPU menyediakan opendata.kpu.go.id yang berisi berbagai dataset kepemiluan terbuka. Pemanfaatan data terbuka ini diharapkan dapat memicu lahirnya riset-riset akademis yang objektif terkait perilaku pemilih dan dinamika elektoral.
Melalui integrasi antara kesadaran kritis dan pemanfaatan teknologi ini, mahasiswa baru Universitas Brawijaya diharapkan tidak hanya menjadi penonton pasif. Mereka harus bertransformasi menjadi generasi yang aktif dalam kehidupan demokrasi, kritis dalam menyikapi informasi, cerdas dalam menggunakan hak politik, serta senantiasa menjunjung tinggi integritas. Dengan bekal pengetahuan dan akses data yang memadai, mahasiswa siap menghadapi tantangan demokrasi modern yang semakin kompleks, sekaligus berkontribusi nyata bagi penguatan sistem ketatanegaraan Indonesia yang lebih matang dan beradab.







