KLIKINFOBERITA.COM, -Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026 di Kabupaten Bengkulu Tengah mencatat fenomena memprihatinkan: SD Negeri 53 di Desa Kota Titik, Kecamatan Pematang Tiga, tidak menerima satu pun murid baru. Padahal, sekolah ini menyediakan ruang kelas I berkapasitas 28 siswa. Kegiatan belajar mengajar untuk kelas I terpaksa ditiadakan tahun ini, meski kelas II–VI tetap berjalan normal.
Selain SDN 53, setidaknya 13 SD lain hanya memperoleh murid baru dalam jumlah sangat minim:
Murid: SDN 44 Benteng2
Murang: SDN 24 Benteng, SDN 28 Benteng
Murid: SDN 61 Benteng
Murid: SDN 14 Benteng, SDN 41 Benteng, SDN 45 Benteng, SDN 91 Benteng
Murid: SDN 34 Benteng, SDN 86 Benteng, SDN 87 Benteng
Secara total, 30 SD di Bengkulu Tengah menerima kurang dari 10 siswa baru, mencerminkan tren penurunan partisipasi pendidikan dasar yang meluas.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bengkulu Tengah, Drs. Tomi Marisi, M.Si, mengonfirmasi bahwa fenomena ini bukan hanya masalah lokal. “Tren penurunan jumlah siswa baru terjadi di berbagai sekolah dan hampir di semua jenjang pendidikan nasional,” ujarnya.
Berencana menggabungkan empat SD, termasuk SDN 53, dengan sekolah terdekat. Langkah ini diambil karena minimnya populasi usia sekolah di wilayah tersebut 1. Marisi juga mendesak kepala sekolah meningkatkan inovasi pelayanan dan prestasi institusi guna membangun kepercayaan masyarakat.
SPMB 2025, yang menggantikan PPDB, menetapkan empat jalur penerimaan: domisili (minimal 70% untuk SD), prestasi, afirmasi, dan mutasi 1013. Meski dirancang untuk pemerataan akses pendidikan, sistem ini menuai kekecewaan di masyarakat. Di Bengkulu, orang tua protes karena anaknya ditolak di sekolah terdekat meski memenuhi syarat domisili, mempertanyakan prioritas antara nilai akademik dan jarak tempat tinggal.
Krisis ini berpotensi memperlebar ketimpangan pendidikan antara wilayah padat dan terpencil. Upaya penggabungan sekolah menjadi solusi pragmatis, namun perlu dibarengi dengan
Transportasi terjangkau untuk siswa yang harus menempuh jarak jauh.
Pemetaan ulang distribusi sekolah berdasarkan rasio penduduk usia produktif.
Sosialisasi intensif tentang mekanisme SPMB untuk meminimalisasi mispersepsi 710.
Seperti disampaikan seorang orang tua di Bengkulu: “Biaya pulang-pergi cukup besar… Harapan saya, anak bisa sekolah dekat rumah” ungkapnya.








