Juara 1 Penyaji Terbaik Lomba Dol Tingkat Pelajar Se-Kota Bengkulu UPTD Taman Budaya Bengkulu

oleh -66 Dilihat
oleh
Juara 1 Penyaji Terbaik Lomba Dol Pelajar se-Kota Bengkulu: Tim sekolah menampilkan harmoni orisinal, disiplin pelatih, dukungan kepala sekolah dan orang tua kemenangan untuk pelestarian budaya Bengkulu.-Foto: s.man/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai pendukung memecah suasana khidmat di Aula Utama UPTD Taman Budaya Bengkulu, pada ajang bergengsi Lomba Dol Tingkat Pelajar Se-Kota Bengkulu yang digelar beberapa waktu lalu. Kompetisi yang mempertemukan puluhan perwakilan dari berbagai sekolah menengah pertama dan atas di seluruh kota ini berlangsung sengit dan penuh dengan semangat pelestarian budaya. Namun, dari sekian banyak penampilan spektakuler yang tersaji, satu nama berhasil mencuri perhatian dewan juri dan keluar sebagai yang terbaik. Sebuah sekolah menampilkan pertunjukan Dol yang tidak hanya enerjik, tetapi juga sarat dengan interpretasi musikalitas yang mendalam, sehingga berhak menyandang gelar Juara 1 sebagai Penyaji Terbaik. Prestasi gemilang ini menjadi buah manis dari kerja keras panjang yang melibatkan seluruh elemen sekolah, mulai dari pimpinan, para pelatih, guru pendamping, hingga dukungan penuh dari orang tua siswa.

Keberhasilan meraih Juara 1 untuk kategori Penyaji Terbaik bukanlah sebuah kebetulan. Di balik penampilan yang memukau tersebut, terdapat sosok Kepala Sekolah yang visioner, Priyanti Yuliana, M.Pd, Si. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang sangat peduli terhadap pengembangan potensi non-akademik siswa, terutama dalam bidang seni dan budaya. Sejak awal persiapan, Ibu Priyanti Yuliana memberikan arahan tegas agar tim Dol sekolahnya tampil tidak sekadar memainkan alat musik, tetapi membawakan sebuah pertunjukan yang bercerita tentang semangat dan karakter masyarakat Bengkulu. Beliau secara rutin memantau jalannya latihan, memastikan seluruh kebutuhan alat dan logistik terpenuhi, serta selalu memberikan wejangan motivasi kepada para siswa agar tidak gentar menghadapi lawan-lawan tangguh. Dukungan moril dari kepala sekolah ini menjadi fondasi kokoh yang membuat para siswa merasa dihargai dan didukung penuh oleh institusi pendidikan mereka.

Dari segi aransemen musik, tidak dapat dipungkiri bahwa peran Penata Musik, Riki, menjadi salah satu kunci kemenangan. Riki mampu menyulap komposisi Dol tradisional menjadi sebuah harmoni modern yang tetap memegang teguh pakem asli alat musik pukul tersebut. Dengan kreativitasnya, Riki menyisipkan dinamika permainan yang kontras, mulai dari ritme pelan yang membangun ketegangan hingga puncak klimaks yang menghentak mengundang decak kagum penonton. Beliau tidak hanya mengatur tempo, tetapi juga mengorkestrasi volume dan intonasi dari setiap pukulan Dol yang dibawakan oleh ketujuh siswanya. Menurut Riki, tantangan terbesar adalah membuat para siswa memahami bahwa Dol bukan hanya soal kekuatan memukul, tetapi juga soal perasaan dan rasa kebersamaan dalam menjaga ketukan. Keahlian Riki dalam menata komposisi menjadi pembeda utama yang membuat penampilan tim ini dinilai paling orisinil dan memikat oleh dewan juri UPTD Taman Budaya Bengkulu.

Sementara itu, sosok pelatih utama yang akrab disapa Ayah Ki memiliki peranan yang sangat vital dalam membentuk fisik dan mental para pemain Dol. Ayah Ki adalah pelatih senior yang sudah berpengalaman puluhan tahun mengasah bakat seni pukul tradisional di Bengkulu. Dengan pendekatan yang disiplin namun penuh kelembutan kebapakan, Ayah Ki berhasil menanamkan rasa cinta terhadap Dol pada diri setiap siswa. Setiap sore, di bawah teriknya panas terik atau bahkan ketika rintik hujan mulai turun, Ayah Ki dengan sabar memperbaiki teknik pukulan, posisi duduk, dan kekompakan formasi. Ia sering mengulangi prinsip bahwa “Dol dimainkan dengan hati, bukan hanya dengan tangan”, sehingga para siswa tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, melainkan kemampuan untuk menyelaraskan emosi mereka melalui irama. Dedikasi Ayah Ki yang luar biasa ini menjadi perekat yang mampu menyatukan perbedaan karakter dari ketujuh siswa yang tampil menjadi satu kesatuan yang solid dan mematikan di atas panggung.

Proses pembinaan tidak berjalan sendirian. Tiga guru pendamping yang berdedikasi tinggi, yaitu Wilyus Patra, S.Pd, Gr, Niswatun Zakiyah Lubis, S.Pd, Gr, dan Indah Febriyanti, S.Pd.Gr, turut andil dalam mengantarkan tim ini menuju puncak prestasi. Wilyus Patra bertindak sebagai koordinator lapangan yang mengatur jadwal latihan dan strategi penampilan, memastikan tidak ada satu pun siswa yang terlewat dari sesi pembekalan. Niswatun Zakiyah Lubis menjadi sosok motivator sekaligus “ibu” bagi para siswa, yang selalu siap mendengarkan keluh kesih serta memberikan semangat ketika kelelahan mulai menerpa. Tak jarang, ia menyuguhkan minuman dan camilan untuk mengembalikan energi anak-anak didiknya di sela-sela waktu istirahat. Sementara itu, Indah Febriyanti bertugas mengoreksi detail teknis, mulai dari kostum, tata rias, hingga penguasaan panggung agar penampilan mereka estetik dan maksimal di mata juri. Kekompakan tim pendamping ini menciptakan lingkungan latihan yang nyaman, penuh kekeluargaan, dan pastinya profesional, sehingga para siswa dapat berkembang secara optimal tanpa tekanan berlebih.

Kemenangan ini juga tidak terlepas dari antusiasme orang tua siswa yang luar biasa. Sejak awal pengumuman lomba, para orang tua langsung bergerak cepat membentuk dukungan moral yang solid. Tidak hanya sebatas datang menyaksikan pada hari perlombaan, mereka juga terlibat aktif dalam menyiapkan perlengkapan, mengantar dan menjemput anak-anak saat latihan, hingga menyediakan konsumsi bergizi agar kondisi fisik para siswa tetap prima. Di hari perlombaan, tribun penonton dipenuhi oleh orang tua yang dengan semangat meneriakkan yel-yel dukungan, membentangkan spanduk-spanduk kecil, dan tak henti berdoa untuk kesuksesan putra-putri mereka. Sorak sorai ibu-ibu dan bapak-bapak tersebut ikut menambah atmosfer meriah di dalam aula. Mereka juga yang menjadi pemadam kegugupan para siswa sebelum tampil, mengingatkan bahwa partisipasi dan usaha adalah hal utama di atas segalanya. Dukungan tanpa pamrih dari orang tua inilah yang menjadi energi batin tambahan bagi para pemain untuk mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya di atas panggung.

Di atas panggung, ketujuh siswa pilihan yang tampil menunjukkan kolaborasi sempurna yang memukau. Mereka adalah Daffa, Satria, Fabrizio, Alfan, Raffa, Faiz, dan Fadhil. Masing-masing dari mereka memiliki peran kunci dalam susunan ansambel Dol. Daffa, yang dipercaya sebagai pemegang pukulan bass atau pengatur tempo dasar, tampil dengan ketukan stabil yang menjadi fondasi seluruh alunan. Satria dan Fabrizio mengisi harmoni tengah dengan permainan interlude yang variatif, membuat alunan musik tidak pernah terdengar monoton. Sementara itu, Alfan dan Raffa memainkan pola ritme tinggi yang menciptakan suara “cengkok” khas Dol Bengkulu, menambah kekayaan tekstur suara. Tidak mau ketinggalan, Faiz dan Fadhil yang ditempatkan di posisi pinggir berperan sebagai penyeimbang dinamika, sesekali memberikan aksentuaasi pukulan keras yang menghentak dan membuat penonton terperangah. Mereka tampil dengan ekspresi muka yang mantap, senyum tipis penuh percaya diri, serta gerakan tubuh yang kompak mengikuti setiap ketukan. Kekompakan mereka benar-benar terlihat seperti sebuah mesin ritme yang terkalibrasi dengan sangat rapi, tidak ada satu pun pukulan yang meleset dari pola yang telah ditentukan.

Penampilan perdana mereka diawali dengan pukulan pelan yang menenangkan, seolah mengajak penonton masuk ke dalam suasana khas tanah Bengkulu. Perlahan, tempo mulai meningkat, dan ketukan berubah menjadi lebih agresif dan penuh semangat. Alunan Dol yang mereka bawakan seakan menggambarkan denyut nadi perjuangan dan semangat pantang menyerah anak muda. Pada bagian klimaks, mereka memainkan potongan ritme yang sangat cepat dengan transisi yang mulus, diiringi yel-yel singkat yang keluar dari mulut para pemain secara bersamaan, menambah keunikan penampilan mereka. Para juri terlihat saling berbisik dan mengangguk-angguk kagum, bahkan beberapa penonton dari sekolah lain tidak bisa menahan decak kagum dan ikut bertepuk tangan mengikuti irama. Ketika pukulan terakhir bergema dan hening menyelimuti ruangan, suasana langsung berubah menjadi gemuruh tepuk tangan meriah yang memenuhi seluruh sudut aula UPTD Taman Budaya Bengkulu.

Momen puncak akhirnya tiba saat pengumuman pemenang. Ketika juri pertama menyebutkan nama sekolah mereka sebagai Juara 1 Penyaji Terbaik, seluruh tim yang terdiri dari siswa, guru, Ayah Ki, serta Riki, melonjak kegirangan dan saling berpelukan. Tangis haru tak terelakkan membasahi pipi beberapa orang tua yang hadir, melihat anak-anak mereka mendapatkan pengakuan terbaik atas kerja keras yang telah dijalani selama berminggu-minggu. Kepala Sekolah Priyanti Yuliana, M.Pd, Si yang turut berada di barisan depan langsung naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat dan pelukan hangat kepada Daffa, Satria, Fabrizio, Alfan, Raffa, Faiz, dan Fadhil. Dalam sambutan singkatnya, beliau menyampaikan bahwa piala dan sertifikat ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah awal yang membuktikan bahwa seni tradisional Dol tetap relevan dan mampu bersaing di era modern melalui inovasi dan kolaborasi.

Usai menerima piala, pelatih Ayah Ki menyampaikan rasa syukurnya yang mendalam kepada seluruh pihak. Ia menekankan bahwa kesuksesan ini adalah hasil gotong royong, di mana setiap orang mengerahkan peran terbaiknya. Penata Musik, Riki, menambahkan bahwa ia sangat bangga melihat kedisiplinan para siswa yang mampu mengikuti perubahan aransemen yang cukup sulit dalam waktu relatif singkat. Para guru pendamping, Wilyus Patra, Niswatun Zakiyah Lubis, dan Indah Febriyanti, terlihat haru namun lega; tugas berat mereka akhirnya membuahkan hasil yang manis dan terbayar sudah dengan gelar prestisius ini. Mereka pun berpesan agar pengalaman ini bisa menjadi bekal bagi para siswa untuk lebih mencintai kebudayaan daerahnya sendiri.

Keberhasilan meraih Juara 1 Penyaji Terbaik ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi sekolah, tetapi juga menjadi angin segar bagi pelestarian budaya Dol di kalangan generasi muda Kota Bengkulu. UPTD Taman Budaya Bengkulu selaku penyelenggara menyatakan bahwa antusiasme dan kualitas yang ditampilkan oleh para peserta, terutama dari tim juara, sangatlah membanggakan. Ini menandakan bahwa seni Dol memiliki masa depan yang cerah di tangan pelajar-pelajar saat ini. Dengan hadirnya inovasi dalam komposisi dan teknik pementasan seperti yang ditunjukkan oleh tim ini, diharapkan seni Dol tidak akan pernah lekang oleh zaman dan terus menjadi identitas budaya yang kokoh bagi masyarakat Bengkulu.

Di sisi lain, kisah sukses ini mengajarkan kepada kita semua bahwa sebuah prestasi besar tidak pernah lahir dari instan. Ia adalah akumulasi dari latihan yang tidak pernah kenal lelah, pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran, serta sinergi yang solid antara sekolah, guru, pelatih, orang tua, dan yang terpenting adalah semangat juang dari para siswa itu sendiri. Daffa, Satria, Fabrizio, Alfan, Raffa, Faiz, dan Fadhil kini menjelma menjadi pahlawan kecil bagi sekolah dan keluarganya. Mereka telah mengukir sejarah sebagai generasi penerus yang berhasil membawa harum nama institusi pendidikan serta melestarikan kekayaan seni musik tradisional.

Ke depan, diharapkan prestasi ini menjadi katalisator untuk terus mengembangkan ekstrakurikuler seni di sekolah. Kepala Sekolah Priyanti Yuliana berencana untuk menjadikan tim Dol ini sebagai duta budaya sekolah yang siap tampil pada berbagai acara besar, baik di tingkat kota, provinsi, bahkan nasional. Dengan fondasi tim yang sudah terbentuk dengan baik, pengalaman di kompetisi ini akan menjadi modal berharga untuk mempertahankan gelar di masa mendatang. Dukungan penuh dari orang tua siswa pun diyakini akan terus mengalir, seperti yang sudah terbukti selama persiapan menuju lomba kali ini.

Kemenangan gemilang yang diraih di UPTD Taman Budaya Bengkulu ini akan selalu diingat sebagai salah satu pencapaian emas dalam perjalanan pendidikan karakter di sekolah tersebut. Lebih dari sekadar piala, yang didapat adalah pelajaran tentang kerja sama tim, disiplin, ketekunan, dan cinta terhadap warisan budaya leluhur. Semoga cerita sukses ini bisa menjadi inspirasi bagi pelajar lain di seluruh Indonesia untuk tidak pernah malu mencintai budaya sendiri dan berani menunjukkan bakat terbaik mereka di kancah perlombaan. Selamat kepada seluruh tim, para orang tua, dan pembina; kalian adalah juara sejati yang telah mengharumkan nama Kota Bengkulu melalui tabuhan Dol yang menggema dari hati.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.