KLIKINFOBERITA.COM,- Pasar logam mulia dunia bersiap menghadapi pekan yang penuh dengan fluktuasi tinggi. Harga emas dunia pada perdagangan pekan depan diproyeksikan akan sangat dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur. Di tengah ketidakpastian tersebut, pergerakan harga logam mulia ini diprediksi akan berfluktuasi dalam rentang yang cukup lebar, yakni berada di kisaran USD4.102 hingga USD4.650 per troy ounce.
Analis pasar uang dan komoditas terkemuka, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa sentimen pasar saat ini masih sangat rentan terhadap berbagai isu keamanan global. Mengacu pada data penutupan perdagangan pada Jumat (11/9/2026), harga emas dunia tercatat bertengger di posisi USD4.348 per troy ounce. Angka ini menjadi titik tolak penting bagi para investor untuk memetakan strategi investasi mereka menjelang pembukaan pasar pada pekan depan.
Dalam riset terbarunya yang dirilis pada Minggu (13/9/2026), Ibrahim memaparkan analisis teknikal yang komprehensif mengenai arah pergerakan emas. Ia menilai, jika terjadi tekanan jual yang masif dari para pelaku pasar, level support pertama yang wajib dicermati oleh para investor berada di area USD4.245 per troy ounce. “Apabila mengalami koreksi penurunan, support pertama itu ada di USD4.245 per troy ounce. Kemudian, jika tekanan jual terus berlanjut dan harga turun lebih dalam, kemungkinan besar emas akan menyentuh level support berikutnya di USD4.102 per troy ounce,” jelas Ibrahim.
Namun, skenario sebaliknya juga memiliki probabilitas yang sama kuatnya. Jika sentimen positif kembali mendominasi dan harga emas berhasil melanjutkan tren kenaikannya, Ibrahim mengukur level resistance pertama berada di posisi USD4.479 per troy ounce. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa apabila momentum penguatan ini bertahan secara solid dan konsisten, pergerakan harga emas berpotensi melaju lebih tinggi menuju batas resistance berikutnya di level USD4.650 per troy ounce.
Di balik pergerakan teknikal tersebut, Ibrahim menjelaskan bahwa volatilitas harga emas dunia saat ini masih didominasi oleh memanasnya tensi geopolitik di dua kawasan krusial. Di Eropa Timur, konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina diprediksi akan memakan waktu yang sangat lama untuk mereda. Hal ini tidak lepas dari rumitnya proses perebutan dan negosiasi batas wilayah yang melibatkan berbagai kepentingan kompleks antarpihak yang bertikai.
Sementara itu, ketidakstabilan di Timur Tengah terus menjadi bahan bakar utama yang menjaga daya tarik emas sebagai aset safe haven di tengah portofolio investasi global. “Ketidakpastian yang berkepanjangan ini secara otomatis akan mendorong aliran dana masuk ke instrumen yang dianggap lebih aman,” tambahnya.
Emas telah lama dikenal sebagai lindung nilai yang efektif terhadap inflasi dan risiko sistemik. Oleh karena itu, setiap pernyataan dari para pemimpin negara-negara besar maupun eskalasi militer di lapangan akan langsung berdampak pada psikologi pelaku pasar. Kondisi ini membuat para investor diwajibkan untuk tetap waspada dan mencermati setiap perkembangan berita geopolitik. Kombinasi antara analisis teknikal yang ketat dan pemantauan isu fundamental global akan menjadi kunci utama dalam menavigasi pasar emas yang dinamis pada pekan depan. Para pelaku pasar pun diminta untuk tidak mudah panik dan tetap berpegang pada manajemen risiko yang terukur demi mengamankan aset mereka di tengah badai ketidakpastian ekonomi dan politik dunia yang kian tidak menentu.









