Harga Cabai di Pasar Panorama Bengkulu Tembus Rp90 Ribu, Daya Beli Masyarakat Tertekan

oleh -86 Dilihat
oleh
Pedagang melayani pembeli cabai di Pasar Panorama, Kota Bengkulu, Minggu (1/11/2026). Harga cabai yang menembus Rp90 ribu per kilogram membuat masyarakat mengeluhkan meningkatnya beban pengeluaran rumah tangga.-Foto :s.man/klikinfoberita com

KLIKINFOBERITA.COM,- Harga cabai di Pasar Panorama, Kota Bengkulu, kembali mengalami lonjakan setelah sempat turun dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan pantauan Minggu (1/11/2026), harga cabai merah keriting dan cabai rawit kini mencapai Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram.

Kenaikan harga tersebut mulai dikeluhkan masyarakat. Pasalnya, cabai merupakan salah satu kebutuhan dapur yang sulit dipisahkan dari konsumsi sehari-hari. Kondisi ini membuat pengeluaran rumah tangga semakin bertambah, sementara daya beli masyarakat justru semakin tertekan.

Lonjakan harga juga dirasakan para pedagang. Tingginya harga jual membuat sebagian konsumen mengurangi jumlah pembelian, bahkan ada yang memilih membeli cabai dalam takaran kecil agar tetap bisa memenuhi kebutuhan dapur.

Mumun, salah seorang pedagang cabai di Pasar Panorama, mengatakan kenaikan harga mulai terjadi sejak beberapa hari terakhir. Padahal, sebelumnya harga cabai sempat mengalami penurunan hingga di bawah Rp70.000 per kilogram.

“Sekarang rata-rata Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per kilo. Padahal sebelumnya sempat turun di bawah Rp70 ribu. Naiknya cukup cepat,” ungkap Mumun.

Ia menduga kenaikan tersebut dipicu terbatasnya pasokan cabai dari petani. Kondisi cuaca yang tidak menentu serta panen yang belum merata turut memengaruhi ketersediaan barang di pasaran.

“Barang dari atas (petani) juga terbatas. Kadang datang sedikit, jadi otomatis harga ikut naik. Kami sebagai penjual hanya mengikuti harga dari pemasok,” jelasnya.

Menurut Mumun, dampak kenaikan harga mulai terlihat dari perubahan kebiasaan belanja konsumen. Jika sebelumnya masyarakat terbiasa membeli cabai hingga satu kilogram, kini sebagian besar memilih membeli setengah kilogram atau bahkan seperempat kilogram.

“Biasanya orang beli satu kilo, sekarang banyak yang beli setengah kilo atau seperempat. Sepi pembeli kalau cabai mahal begini,” keluhnya.

Keluhan serupa disampaikan Yanti, salah seorang pembeli di Pasar Panorama. Ia mengaku terkejut dengan kenaikan harga cabai yang terjadi dalam waktu singkat.

“Baru seminggu lalu saya beli masih Rp70 ribu, sekarang sudah Rp90 ribu. Ini berat sekali, apalagi cabai termasuk kebutuhan pokok sehari-hari,” ujarnya.

Yanti menilai kenaikan harga tersebut semakin membebani pengeluaran rumah tangga, terutama bagi masyarakat yang harus mengatur anggaran belanja harian agar seluruh kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Ia berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengendalikan lonjakan harga, terutama dengan memastikan kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan cabai di pasar.

“Kalau bisa ada operasi pasar atau bantuan pasokan. Kami sebagai ibu rumah tangga sangat merasakan dampaknya,” tambahnya.

Sementara itu, Mumun berharap pasokan cabai segera kembali normal sehingga harga dapat berangsur turun. Menurutnya, jika harga terus bertahan tinggi, jumlah pembeli dikhawatirkan semakin berkurang dan berimbas langsung terhadap pendapatan pedagang.

“Mudah-mudahan cepat turun. Kalau mahal terus, pembeli kabur, kami juga bingung,” pungkasnya.

Dari hasil pantauan di Pasar Panorama, cabai masih tersedia dan dapat dibeli masyarakat. Namun, pasokan disebut tidak sebanyak biasanya. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dikhawatirkan terus memengaruhi pergerakan harga.

Lonjakan harga cabai ini menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat. Di tengah kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan, konsumen kini harus lebih cermat mengatur pengeluaran. Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar pasokan kembali stabil dan harga cabai tidak terus melambung, sehingga kebutuhan pangan tetap dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.(s.man)

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.