Dari Lumpur Rawa ke Meja Mewah Negeri Tirai Bambu; Ekspor Belut Kalsel Meledak Rp10 Miliar

oleh -46 Dilihat
oleh
Dari lumpur ke meja internasional: sinergi pemerintah, karantina, dan eksportir dorong belut Kalsel tembus pasar Tiongkok senilai miliaran rupiah.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Siapa sangka, hewan melata yang biasa menggeliat di lumpur rawa Kalimantan Selatan kini menjelma menjadi primadona ekspor yang mendunia. Dalam tujuh bulan pertama di tahun 2026, komoditas belut hidup asal Bumi Lambung Mangkurat ini telah menorehkan rekor fantastis dengan nilai tembus Rp10,14 miliar, terbang langsung ke meja makan konsumen di Tiongkok.

Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan lonjakan dahsyat yang mencengangkan. Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalsel mencatat, sepanjang Januari hingga Juli 2026 saja, sudah terjadi 72 kali pengiriman belut hidup ke Negeri Tiongkok. Totalnya mencapai 1,4 juta ekor dengan bobot 205,6 ton. Bayangkan, jika dibandingkan dengan sepanjang tahun 2025 yang hanya mencatat 17 kali pengiriman senilai Rp1,92 miliar, maka pertumbuhan ini bagaikan rocket!

Apa kunci ledakan ekspor ini? Jawabannya ada di jalur udara. Dibukanya penerbangan kargo langsung rute Banjarmasin–Tiongkok menjadi game changer yang signifikan. Dulu, para eksportir harus membawa belut hidup memutar via Jakarta atau Surabaya, sebuah perjalanan panjang yang kerap menurunkan kualitas. Kini, rantai logistik memendek drastis.

“Waktu tempuh yang lebih singkat membuat kualitas belut tetap prima saat tiba di tujuan,” ungkap Kepala Balai Karantina Kalsel, Erwin A. M. Dabukke, dalam ajang Go Ekspor Barantin Web Series Episode 3, Rabu (29/7). Kualitas yang terjaga adalah nyawa dari bisnis komoditas hidup.

Namun, tembusnya pasar global bukan hanya soal rute, melainkan juga jaminan mutu. Di sinilah peran vital Badan Karantina Indonesia (Barantin) tampil sebagai garda terdepan. Plt. Deputi Karantina Ikan Barantin, Sugeng Sudiarto, menegaskan bahwa setiap ekor belut yang diekspor wajib lolos uji kesehatan super ketat.

“Belut harus bebas dari hama dan penyakit ikan. Ini bukan hanya formalitas memenuhi syarat negara tujuan, tetapi fondasi utama menjaga kepercayaan pasar internasional yang sudah susah payah dibangun,” tegas Sugeng. Tanpa itu, mimpi ekspor bisa sirna dalam sekejap.

Barantin tak hanya bertugas memeriksa, tetapi juga mendampingi pelaku UMKM dari hilir ke hulu. Pendampingan mulai dari pengurusan dokumen, pengecekan media pembawa, hingga penerbitan sertifikat kesehatan pun digalakkan. Kepala PPSDM Karantina, Wisnu Wasisa Putra, menambahkan bahwa edukasi melalui web series sangat krusial agar UMKM Kalsel melek peluang dan tidak gagap teknologi.

Kalimantan Selatan memang memiliki modal alam yang melimpah. Kondisi perairan rawa dan lahan basah menjadikannya salah satu lumbung belut alam terbesar di Indonesia. Sinergi apik antara pemerintah, pelaku usaha, dan otoritas karantina disebut sebagai resep jitu.

“Kalau mutu kita jaga, daya saing belut Kalsel di pasar global akan semakin kokoh,” pungkas Erwin. Bukan sekadar hewan rawa, belut hidup kini menjelma menjadi mesin ekonomi baru yang mengalirkan kesejahteraan bagi masyarakat daerah. Indonesia, melalui belut, sedang menunjukkan gigi di pasar dunia.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.