KLIKINFOBERITA.COM,- Malam sakral di Balai Raya Semarak, Bengkulu, Selasa malam (23/6), menorehkan momen bersejarah. Komandan Jenderal Kopassus, Mayjen Djon Afriandi, secara resmi dianugerahi gelar adat tertinggi “Panglima Raja” oleh Badan Musyawarah Adat (BMA) Provinsi Bengkulu dalam sebuah prosesi khidmat yang dihadiri pejabat daerah dan tokoh masyarakat.
Prosesi dimulai dengan tabuhan musik tradisional yang menggema, mengiringi langkah mayjen dua bintang mengenakan pakaian adat Bengkulu. Penyerahan gelar dipimpin Ketua BMA Provinsi Bengkulu Effendi M.S dan disaksikan langsung Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, unsur Forkopimda, Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi, Pj Sekda Kota Medy Pebriansyah, serta sejumlah tamu undangan.
Effendi mengatakan gelar tersebut bukan sekadar simbol, melainkan hasil penilaian adat yang ketat terhadap garis keturunan dan kontribusi sang penerima. “Pemberian gelar ini melalui proses musyawarah adat. Mayjen Djon memiliki garis keturunan dan keterikatan kuat dengan tradisi Bengkulu, sehingga layak mendapat penghormatan ini,” ujar Effendi.
Djon Afriandi, yang merupakan putra almarhum Mayjen TNI Affifudin Thaib — tokoh besar asal Suku Lembak — menyampaikan sambutan penuh haru. Ia mengenang masa kecilnya di Kelurahan Pasar Melintang, Kota Bengkulu, sebelum menempuh pendidikan di SMA Bandung dan lulus sebagai Adhi Makayasa Akademi Militer tahun 1995.
Dalam sambutannya, Djon menegaskan gelar Panglima Raja merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. “Ini bukan sekadar tanda kehormatan, melainkan tanggung jawab menjaga marwah adat dan mempererat persaudaraan. Sebagai putra Bengkulu, saya akan menjunjung tinggi nilai adat dan memperkuat persatuan,” ujarnya tegas.
Acara ditutup dengan suasana hangat dan penuh penghormatan, menandai babak baru dalam kehidupan Djon: memikul amanah budaya di samping tugas militer sebagai pimpinan pasukan elite TNI. Kehadirannya diharapkan semakin memperkuat hubungan antara institusi militer dan warisan budaya Bengkulu.







