KLIKINFOBERITA.COM,- Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program kesehatan dasar kembali menjadi sorotan utama di Kabupaten Bengkulu Tengah. Hingga akhir Agustus 2026, realisasi capaian program imunisasi di wilayah ini tercatat masih berada di bawah ambang batas minimal yang ditetapkan pemerintah pusat. Kondisi ini memicu respons cepat dari Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah yang segera menggelar Rapat Koordinasi Lintas Sektor pada Senin, 31 Agustus 2026, untuk merumuskan strategi percepatan guna mengejar ketertinggalan target nasional.
Data resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Tengah per 30 Agustus 2026 mengungkapkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Capaian Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) untuk bayi usia 0–11 bulan baru menyentuh angka 45,28 persen, atau setara dengan 1.126 bayi dari total target 85 persen. Situasi serupa juga terjadi pada kelompok baduta (bawah dua tahun) usia 12–23 bulan, di mana realisasinya baru mencapai 47,68 persen atau 1.170 anak dari target 75 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa hampir separuh populasi rentan di kabupaten tersebut belum terlindungi secara optimal dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Kesenjangan capaian yang lebih tajam terlihat pada kategori Wanita Usia Subur (WUS) berusia 15–49 tahun. Dari target 71 persen, realisasi imunisasi pada kelompok ini baru mencapai 26,04 persen, atau sebanyak 6.384 orang. Rendahnya partisipasi WUS dalam program imunisasi menjadi tantangan tersendiri, mengingat peran vital mereka dalam menjaga kekebalan komunitas dan kesehatan generasi mendatang.
Menyikapi minimnya angka realisasi tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Bengkulu Tengah, Drs. Tomi Marisi, M.Si., menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan memerlukan kolaborasi holistik. “Program imunisasi membutuhkan dukungan dan kolaborasi semua pihak. Tidak cukup hanya mengandalkan sektor kesehatan, tetapi harus ada keterlibatan pendidikan, pemerintahan desa, sosial, PKK, hingga komunikasi publik. Kita ingin memastikan tidak ada anak yang terlewat mendapatkan imunisasi,” tegas Tomi dalam rapat koordinasi tersebut.
Pernyataan Sekda ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan multidimensi dalam menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat. Keterlibatan tokoh masyarakat, perangkat desa, hingga organisasi perempuan seperti PKK dinilai krusial untuk membangun kepercayaan publik dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi. Edukasi yang masif dan berkelanjutan diharapkan dapat mengikis keraguan serta misinformasi yang mungkin masih beredar di tengah masyarakat.
Sebagai tindak lanjut konkret dari evaluasi tersebut, Pemkab Bengkulu Tengah telah menyepakati sejumlah strategi darurat. Dinas Kesehatan bersama jajaran lintas sektor akan mengintensifkan kegiatan penyisiran ulang atau sweeping ke rumah-rumah penduduk. Langkah ini bertujuan untuk menjangkau anak-anak yang selama ini terlewat dari pendataan maupun layanan kesehatan rutin. Selain itu, validasi data sasaran akan diperketat untuk memastikan akurasi informasi mengenai status imunisasi setiap balita di wilayah tersebut.
Strategi lain yang akan diterapkan adalah penguatan edukasi di wilayah-wilayah dengan capaian imunisasi terendah. Pendekatan persuasif melalui dialog langsung dengan orang tua diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang manfaat jangka panjang imunisasi bagi tumbuh kembang anak. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, Kabupaten Bengkulu Tengah optimis dapat menutup celah ketertinggalan ini. Komitmen bersama untuk mencapai target cakupan imunisasi yang tinggi bukan hanya soal angka statistik, melainkan investasi nyata bagi masa depan generasi muda Bengkulu Tengah yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.(adv)









