KLIKINFOBERITA.COM,- Sebuah konflik kecil mengenai pembakaran sampah di lingkungan warga Desa Palapan, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, berakhir dengan kejadian yang menyedihkan. Pasangan suami istri, Popy Chatrine dan Oza Fikri Kusuma, terpaksa menjadi korban dari dugaan penyerangan yang diduga dilakukan oleh seorang oknum polisi bersama istri dan tiga anggota keluarganya yang datang dari luar daerah.
Insiden yang terjadi pada 25 Maret tersebut kini telah resmi dilaporkan ke Polres Bengkulu Tengah, setelah pihak korban merasa tidak ada niat baik atau usaha untuk menyelesaikan secara damai dari pihak yang dilaporkan pasca kejadian.
Menurut informasi yang berhasil dihimpun, sosok yang dilaporkan adalah oknum polisi berinisial J-O, bersama isterinya yang berinisial S-A, serta tiga anggota keluarga yang datang dari Pekanbaru. Sumber konflik ini sebenarnya tampak sangat sepele. Sekitar pukul 23. 00 WIB, S-A mendatangi rumah korban dengan perasaan sangat marah. Ia mengeluhkan keras tindakan warga yang membakar sampah di lahan kosong di samping rumah mereka. S-A sangat khawatir bahwa asap dan sisa pembakaran tersebut akan merusak unit pendingin ruangan (AC) yang ada di rumahnya.
Menyadari suasana mulai memanas, Popy sebagai istri berusaha berperilaku tenang dan mengajak untuk berbincang dengan baik. “Kami sudah mengatakan untuk berdiskusi dengan santai, tidak perlu berisik di malam hari seperti ini. Namun, niat baik kami langsung dijawab dengan kemarahan. Dia tiba-tiba mendorong suami saya tanpa alasan yang jelas,” kata Popy dengan suara kesal, menceritakan bagaimana ketegangan bermula.
Setelah insiden dorong-mendorong tersebut, oknum polisi berinisial J-O datang dan ikut terlibat dalam keributan. Alih-alih meredakan konflik, J-O justru bersikap agresif. Dia dilaporkan langsung mencengkeram kerah baju Oza dan mendorongnya hingga terpaksa mundur ke teras rumah. Situasi menjadi semakin kacau ketika ketiga anggota keluarga terlapor yang hadir juga ikut menyerang korban.
Popy mengaku sangat ketakutan melihat peristiwa yang terjadi di depannya. Dia menyaksikan suaminya diserang secara bersamaan. “Suami saya ditarik paksa bajunya, lehernya dicengkeram dengan keras hingga sulit bernafas. Bahkan, di tengah kekacauan itu, ada salah satu dari mereka yang berteriak mengancam akan mengambil parang untuk melukai kami. Kami benar-benar merasakan ketidakberdayaan saat itu,” katanya, mengingat kembali momen yang menakutkan tersebut.
Apa yang semakin membuat hati pasangan ini sakit, setelah kejadian tersebut tidak ada satu pun dari pihak terlapor yang menyampaikan permintaan maaf atau berusaha menyelesaikan masalah dengan cara baik-baik. Sebaliknya, Popy dan Oza justru mendengar bahwa mereka menjadi pihak yang dilaporkan kepada kepolisian oleh J-O. Merasa hak dan rasa aman mereka terlanggar, serta tidak ada cara damai yang ditawarkan, akhirnya mereka memutuskan untuk melaporkan kembali tindakan yang menimpa mereka ke Polres Bengkulu Tengah.
Hingga informasi ini dipublikasikan, laporan resmi telah diterima dan kasus tersebut sedang dalam penanganan oleh pihak berwenang. Korban berharap agar penegak hukum dapat menangani perkara ini dengan adil, jelas, dan mengikuti peraturan yang ada, tanpa mempertimbangkan posisi atau status salah satu pihak yang terlibat.










