KLIKINFOBERITA.COM,- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis pagi, 10 September 2026, terpantau bergerak melemah tipis sebesar satu poin menjadi Rp17.512 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah dinamika pasar global yang dipenuhi ketidakpastian, didorong oleh antisipasi investor terhadap kebijakan fiskal AS serta eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah sebagian besar dipicu oleh sentimen dari pasar obligasi AS. Investor saat ini sedang dalam mode wait and see menjelang pengumuman resmi Departemen Keuangan AS terkait rencana buyback surat utang pemerintah atau US Treasury (UST) bertenor panjang. Meskipun indikasi awal menyebutkan nilai buyback berada di kisaran 4 miliar dolar AS, sejumlah analis pasar memperkirakan angka tersebut bisa jauh lebih besar, yang berpotensi mempengaruhi likuiditas dolar global.
“Dolar AS memang berada di bawah tekanan teknis, namun volatilitas tetap tinggi karena pasar mencoba memprediksi skala intervensi utang jangka panjang tersebut. Ketidakpastian ini membuat mata uang emerging market, termasuk rupiah, mengalami koreksi ringan,” ujar Josua.
Selain faktor domestik AS, pergerakan mata uang yen Jepang juga memberikan dampak signifikan terhadap indeks dolar. Yen terus menguat setelah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memberikan peringatan keras kepada pelaku pasar. Bessent menyatakan memiliki wawasan mendalam (pretty good insight) mengenai arah kebijakan Bank of Japan (BoJ), sehingga ia menyarankan agar spekulan tidak mengambil posisi berlawanan dengan tren penguatan yen. Pernyataan ini meningkatkan kehati-hatian investor dalam memegang aset berdenominasi dolar.
Faktor fundamental lainnya yang turut mempengaruhi arah rupiah adalah data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang akan dirilis dalam waktu dekat. Data ini menjadi kunci utama bagi pasar untuk membaca langkah selanjutnya dari Federal Reserve (The Fed) menjelang pertemuan kebijakan moneter pekan depan. Jika inflasi masih tertahan tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan akan kembali menguat, yang secara historis cenderung menarik arus modal keluar dari negara berkembang.
Di sisi komoditas, harga minyak dunia terus melonjak akibat meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Laporan terbaru mengindikasikan adanya serangan Iran terhadap kapal-kapal Angkatan Laut AS pada Senin (7/9), menyusul penargetan kapal induk dengan rudal balistik sebelumnya. Ketegangan ini diperparah dengan laporan media Iran tentang hantaman rudal AS terhadap kapal tanker dekat Pulau Kharg. Ditambah lagi dengan serangan drone Ukraina terhadap terminal minyak Novorossiysk di Rusia dan penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 0,3 juta barel, risiko inflasi global semakin nyata. Kenaikan harga energi ini secara tidak langsung memperkuat dolar sebagai aset aman (safe haven), sehingga menambah beban bagi rupiah untuk bertahan di level psikologis saat ini.







