Tertawa Terakhir di Usia 23: Studi Stanford Ungkap Kita Kehilangan Humor Saat Memakai Dasi

oleh -19 Dilihat
oleh
Di balik dasi dan rapat, tawa hilang. Mulai hari ini, cari sejenak humor di kantor kurangi stres, dekatkan kolega, dan ingat: dewasa bukan berarti tak boleh tertawa.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Pernahkah Anda memperhatikan kapan terakhir kali Anda tertawa lepas sampai perut sakit? Jika jawabannya “lupa”, mungkin usia Anda sudah melewati 23 tahun.

Sebuah penelitian dari Stanford Business School mengungkap fakta mencengangkan: orang dewasa mulai kehilangan selera humor rata-rata pada usia 23 tahun. Studi terhadap 1,4 juta orang dari 166 negara ini menemukan bahwa di usia tersebut, frekuensi tertawa dan tersenyum seseorang mulai menurun drastis.

Bayangkan perbedaan yang mencolok. Anak usia 4 tahun tertawa sekitar 300 kali sehari. Sedangkan orang dewasa usia 40 tahun membutuhkan waktu 10 minggu untuk mencapai jumlah tawa yang sama. Sungguh ironi hidup.

Apa yang terjadi di usia 23? Tahun-tahun itu bertepatan dengan momen ketika sebagian besar orang baru lulus kuliah dan memasuki dunia kerja untuk pertama kalinya.

“Kita tumbuh dewasa, memasuki dunia kerja, dan seketika menjadi ‘orang-orang penting dan serius’, menukar tawa dengan dasi dan celana panjang,” tulis Jennifer Aaker dan Naomi Bagdonas, dua profesor Stanford yang menuangkan temuan ini dalam buku Humour, Seriously.

Mereka menyebut kurangnya humor di tempat kerja sebagai masalah serius. Padahal, jika digunakan dengan tepat, humor bisa menjadi “kekuatan super” bagi perusahaan. Humor yang sehat mampu meredakan ketegangan, membangun kedekatan antarkolega, meningkatkan kreativitas, dan menurunkan tingkat stres.

Lalu mengapa kita begitu cepat meninggalkan tawa? Budaya kerja kaku, tekanan tanggung jawab, dan anggapan bahwa humor adalah sesuatu yang “tidak profesional” membuat banyak orang memilih menjadi kaku dan serius.

Aaker dan Bagdonas, yang mengajar tentang penggunaan humor di tempat kerja, menekankan satu hal penting: Anda tidak perlu menjadi pelawak. Cukup dengan memahami nilai humor dan menggunakannya pada momen yang tepat, Anda sudah bisa merasakan manfaatnya.

Pertanyaan untuk kita semua: apakah pantas menukar 300 tawa sehari dengan 300 tawa dalam 10 minggu?

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menganggap serius sebagai satu-satunya cara dewasa. Karena di balik dasi dan celana panjang, kita tetaplah manusia yang butuh tertawa. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan tanpa tawa.

Mulai hari ini, temukan satu hal lucu di tempat kerja. Tertawalah. Karena humor bukan tanda ketidakdewasaan itu tanda bahwa Anda masih hidup.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.