Rupiah Tertekan Sentimen Global, Keputusan BI Jadi Kunci Arah Pasar

oleh -66 Dilihat
oleh
Rupiah masih dibayangi tekanan global akibat penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian pasar. Keputusan suku bunga Bank Indonesia menjadi penentu arah pergerakan rupiah selanjutnya.- Foto : Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa (20/10/2026). Sejumlah faktor eksternal, mulai dari penguatan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak mentah, hingga ketidakpastian arah suku bunga global, menjadi sentimen yang membayangi pergerakan mata uang Garuda. Di tengah kondisi tersebut, keputusan Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu penentu arah rupiah selanjutnya.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,11% atau 19 poin ke level Rp18.046 per dolar AS pada Senin (19/10/2026). Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia justru mencatat penguatan tipis 0,01% atau Rp2, dari Rp18.052 menjadi Rp18.050 per dolar AS.

Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai ketahanan ekonomi Amerika Serikat masih menjadi salah satu sumber tekanan bagi rupiah. Ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama membuat aset berdenominasi dolar AS tetap menarik di mata investor.

Tekanan terhadap rupiah juga diperburuk oleh kenaikan harga minyak mentah di tengah memanasnya ketegangan geopolitik. Bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai negara pengimpor bersih minyak, lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa sekaligus menambah beban pada neraca eksternal.

“Bagi Indonesia sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga energi global memberikan tekanan tambahan pada defisit transaksi berjalan serta meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi,” ujar Rahma kepada Kontan, Senin (19/10/2026).

Selain sentimen global, pelaku pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 20–21 Oktober 2026. Keputusan terkait suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi perhatian utama investor untuk melihat sejauh mana bank sentral akan menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam risiko keluarnya modal asing.

Di pasar keuangan internasional, kenaikan imbal hasil US Treasury turut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS. Kondisi ini membuat aset negara berkembang menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam menarik dana investor global, terutama ketika instrumen berdenominasi dolar menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif.

Dari dalam negeri, sentimen pasar juga dibayangi usulan peninjauan kembali klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI. Wacana tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai potensi perubahan status Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market.

Menurut Rahma, perkembangan itu berisiko memicu ketidakpastian arus modal asing di pasar keuangan domestik. Kekhawatiran terhadap potensi keluarnya dana investor asing dapat memperbesar tekanan psikologis terhadap rupiah.

“Hal ini memicu kekhawatiran terhadap volatilitas aliran dana asing (foreign portfolio outflow) di pasar modal domestik yang berimbas langsung pada tekanan psikologis terhadap rupiah,” jelasnya.

Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun yang berada di kisaran 7,36% turut menjadi perhatian investor. Tingkat imbal hasil tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai risiko investasi serta daya tarik instrumen keuangan berbasis rupiah di tengah ketidakpastian pasar global.

Rahma memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa akan cenderung berkonsolidasi dalam rentang terbatas. Secara teknikal, rupiah diproyeksikan memiliki level support di kisaran Rp17.950–Rp18.010 per dolar AS, sementara resistance berada pada rentang Rp18.060–Rp18.100 per dolar AS.

Ke depan, arah pergerakan rupiah akan ditentukan oleh kombinasi perkembangan ekonomi global, dinamika harga minyak, arus modal asing, serta keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia. Di tengah meningkatnya risiko eksternal, kejelasan sikap BI dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor dan menopang stabilitas nilai tukar rupiah.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.