Rupiah Tertekan Isu Reshuffle Kabinet dan Ketegangan Global

oleh -62 Dilihat
oleh
Nilai tukar rupiah tertekan melemah ke posisi Rp17.669 per dolar AS pada Senin. Pelemahan ini dipicu sentimen reshuffle kabinet Prabowo serta ketegangan geopolitik global yang memicu lonjakan harga minyak dunia.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan, Senin (14/9/2026). Mata uang Garuda ini tertekan oleh kombinasi sentimen domestik jelang pengumuman reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto serta memanasnya tensi geopolitik global yang memicu kekhawatiran inflasi.

Berdasarkan data perdagangan sore, rupiah ditutup melemah 58 poin atau setara 0,33 persen ke posisi Rp17.669 per dolar AS. Posisi ini menurun dibandingkan penutupan sesi sebelumnya yang berada di level Rp17.611 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar dalam menyikapi dinamika politik dan ekonomi makro yang sedang berlangsung.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari sentimen eksternal yang mengglobal. Ketegangan di Timur Tengah kian memanas menyusul serangan kelompok Houthi di Selat Bab el-Mandeb serta sasaran energi vital Arab Saudi. Situasi ini secara efektif memblokir jalur pasokan minyak strategis, memaksa pengalihan rute ekspor minyak Arab Saudi dari Selat Hormuz ke Bab el-Mandeb.

“Perkembangan geopolitik ini menutup jalur pasokan minyak penting. Risiko gangguan rantai pasok dikhawatirkan memicu lonjakan harga energi global,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya. Kendati mengalami koreksi harian, harga minyak dunia tetap bertengger di atas psikologis 100 dolar AS. Mengutip Reuters, minyak Brent berjangka ditutup turun 3,02 dolar atau 2,81 persen ke level 104,61 dolar per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate anjlok 2,43 dolar atau 2,37 persen ke posisi 100,05 dolar per barel.

Selain faktor geopolitik, prospek kebijakan moneter The Fed juga menjadi beban berat bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Data inflasi AS bulan Agustus menunjukkan indeks harga konsumen inti naik 0,3 persen secara bulanan, di luar komponen pangan dan energi. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi di AS masih membandel.

“Data tersebut memperkuat perkiraan pasar bahwa The Fed kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir pada pertemuan minggu ini. Ekspektasi hawkish ini secara otomatis memperkuat dolar AS dan menekan aset berdenominasi rupiah,” jelas Ibrahim.

Di sisi domestik, ketidakpastian menjelang pengumuman reshuffle kabinet oleh Presiden Prabowo Subianto turut menambah sentimen negatif. Pasar cenderung wait and see terhadap komposisi tim ekonomi yang baru, mengingat kebijakan fiskal dan moneter ke depan sangat bergantung pada figur-figur yang akan dipilih. Kombinasi antara ketidakpastian politik domestik dan badai geopolitik global ini membuat rupiah berada di posisi yang sangat rentan. Pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi yang mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan seiring dengan keluarnya keputusan suku bunga The Fed dan pengumuman resmi kabinet baru.

Investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih pada instrumen Surat Berharga Negara sebagai bentuk antisipasi risiko. Langkah defensif ini semakin memperdalam pelemahan rupiah. Ke depan, arah pergerakan rupiah akan sangat ditentukan oleh sentimen global dan keputusan moneter bank sentral AS. Pemerintah dan Bank Indonesia diprediksi akan melakukan intervensi pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak jatuh terlalu dalam. Sinergi antara kebijakan fiskal pemerintah dan langkah moneter bank sentral menjadi kunci utama untuk meredam tekanan eksternal yang kian berat ini demi menjaga fundamental ekonomi nasional kokoh.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.