KLIKINFOBERITA.COM,- Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (20/10/2026). Rupiah ditutup di level Rp17.980 per dolar AS, sekaligus kembali menembus ke bawah level psikologis Rp18.000 di tengah pelemahan indeks dolar AS dan penantian pasar terhadap keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Mengutip data Refinitiv, rupiah menguat 0,28% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Penguatan tersebut sudah terlihat sejak awal perdagangan, ketika rupiah dibuka naik 0,11% ke posisi Rp18.010 per dolar AS.
Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda melanjutkan tren positif hingga berakhir di level Rp17.980 per dolar AS. Pergerakan ini memberikan sinyal penguatan setelah rupiah sebelumnya berada di atas ambang Rp18.000 per dolar AS.
Salah satu faktor yang menopang penguatan rupiah adalah pelemahan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY). Pada pukul 15.00 WIB, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia tersebut tercatat turun 0,22% ke level 101,758.
Melemahnya dolar AS memberikan ruang bagi sejumlah mata uang lain, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat. Meski demikian, arah pergerakan rupiah selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global dan kebijakan moneter domestik.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada 20–21 Oktober 2026. Bank sentral dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga acuan pada Rabu (21/10/2026), yang dinilai menjadi salah satu penentu arah rupiah dalam jangka pendek.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai peluang kenaikan suku bunga acuan semakin terbuka setelah rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) meningkat, serta sentimen investor memburuk menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Menurut kami, peluang Bank Indonesia menaikkan BI-Rate pada RDG 20–21 Oktober 2026 semakin besar, dengan kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 6,00% sebagai skenario utama,” ujar Josua.
Menurut dia, kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dapat menjadi langkah untuk menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah, mengendalikan ekspektasi inflasi, serta memperkuat kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter Indonesia.
Namun, kenaikan suku bunga tidak serta-merta menjamin rupiah langsung menguat. Josua menegaskan, tekanan terhadap mata uang domestik tidak hanya berkaitan dengan perbedaan suku bunga, tetapi juga meningkatnya persepsi risiko investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Ia menilai persoalan transparansi kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, serta efektivitas penegakan aturan membutuhkan penanganan tersendiri dan tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan moneter.
Dengan demikian, penguatan rupiah ke Rp17.980 per dolar AS menjadi perkembangan positif di tengah tekanan pasar. Namun, keberlanjutan penguatan tersebut masih bergantung pada keputusan BI, kondisi eksternal, dan upaya memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.








