Rupiah Hari Ini 30 September 2026: Tertekan di Sekitar Rp18.000 per Dolar AS

oleh -32 Dilihat
oleh
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan Rabu, 30 September 2026, seiring tekanan global dan ketidakpastian ekonomi yang meningkat.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian pasar pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Mata uang Garuda masih menghadapi tekanan setelah pada perdagangan sebelumnya sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS hari ini. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi global, pergerakan dolar AS, harga minyak dunia, serta sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Berdasarkan data Doo Financial Futures, rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (29/9/2026) melemah tipis 0,02 persen atau tiga poin ke level Rp17.981 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat menembus level Rp18.000 pada awal perdagangan.

Pergerakan rupiah tersebut berlangsung di tengah kondisi mata uang Asia yang bervariasi. Pada perdagangan yang sama, dolar Taiwan melemah 0,39 persen, dolar Singapura turun 0,13 persen, peso Filipina terkoreksi 0,06 persen, baht Thailand melemah 0,04 persen, rupee India turun 0,04 persen, dan yen Jepang terkoreksi 0,01 persen.

Sementara itu, sejumlah mata uang Asia justru mencatat penguatan. Yuan China naik 0,11 persen, won Korea Selatan menguat 0,08 persen, ringgit Malaysia bertambah 0,07 persen, sedangkan dolar Hong Kong naik 0,01 persen.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve atau The Fed. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia turut memberikan tekanan terhadap mata uang Garuda.

“Rupiah masih tertekan terhadap dolar AS oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan imbal hasil obligasi AS yang terus meningkat,” ujar Lukman, sebagaimana dikutip dari laporan ANTARA.

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatian investor. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi harga energi dan mendorong pelaku pasar mengambil sikap lebih hati-hati. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk pembiayaan impor energi sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah.

Dari sisi domestik, investor mencermati perkembangan inflasi dan kinerja perdagangan Indonesia. Sementara dari Amerika Serikat, pasar menunggu sejumlah indikator penting, termasuk data tenaga kerja JOLTS, nonfarm payrolls (NFP), dan inflasi personal consumption expenditures (PCE).

Tekanan terhadap rupiah sebelumnya juga terlihat pada perdagangan Senin (28/9/2026). Saat itu, rupiah ditutup melemah 0,42 persen atau 75 poin ke level Rp17.978 per dolar AS. Tingginya permintaan dolar dari importir serta arus keluar dana asing menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan pasar.

Di tengah dinamika tersebut, kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar turut menjadi perhatian pelaku pasar. Perkembangan indeks dolar AS, imbal hasil Treasury, harga minyak, arus modal asing, serta sentimen geopolitik diperkirakan menjadi faktor penting yang menentukan arah rupiah.

Pada perdagangan Rabu (30/9/2026), pelaku pasar akan mencermati kemampuan rupiah bertahan di sekitar level Rp18.000 per dolar AS. Kisaran Rp17.950-Rp18.050 menjadi proyeksi pergerakan rupiah, namun angka tersebut bukan kepastian harga penutupan karena nilai tukar dapat berubah mengikuti dinamika pasar sepanjang perdagangan.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.