Rupiah Diprediksi Menguat Terbatas di Rp17.880–Rp17.930, BI Tahan Suku Bunga 5,75%

oleh -20 Dilihat
oleh
Pedagang memantau pergerakan nilai tukar rupiah di pasar valuta asing, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Rupiah diperkirakan menguat terbatas di kisaran Rp17.880–Rp17.930 per dolar AS seiring proyeksi BI Rate tetap 5,75%.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 23 September 2026, diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran Rp17.880 hingga Rp17.930 per dolar AS.

Berdasarkan data analisis PT Traze Andalan Futures, mata uang Garuda pada penutupan perdagangan Selasa (22/9/2026) melemah 0,21 persen atau turun 37 poin ke level Rp17.884 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.847.

Pelemahan rupiah turut mewarnai pergerakan mata uang kawasan Asia yang cenderung bervariasi. Sejumlah mata uang utama tercatat melemah, antara lain yen Jepang minus 0,23 persen, baht Thailand minus 0,10 persen, yuan China minus 0,09 persen, serta dolar Singapura minus 0,05 persen.

Sebaliknya, beberapa mata uang justru mencatat penguatan, di antaranya won Korea Selatan naik 0,86 persen, peso Filipina naik 0,14 persen, dolar Taiwan naik 0,10 persen, dan dolar Hong Kong naik 0,03 persen.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah terutama didorong oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) yang dipicu ekspektasi ketatnya kebijakan moneter The Fed. Pasar mengantisipasi peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada Oktober serta proyeksi setidaknya satu kali lagi kenaikan tahun ini.

Dari sisi geopolitik, pasar mencermati sejumlah perkembangan krusial, termasuk sinyal diplomasi AS–Iran menjelang Sidang Umum PBB, eskalasi serangan Houthi di Arab Saudi, serta rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang membahas isu perdagangan.

Sementara dari dalam negeri, sentimen pasar dipengaruhi oleh reshuffle jabatan Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara, isu revisi UU No. 17/2003 terkait pelebaran batas defisit anggaran, serta tekanan kenaikan harga minyak dunia.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) dipastikan terus mengawal stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini ditopang cadangan devisa sebesar US$146,5 miliar.

Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI diproyeksikan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen. Namun, sebagian ekonom melihat peluang kenaikan suku bunga masih terbuka di tengah perhatian terhadap stabilitas rupiah dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Dalam BIG Consensus Insights yang dilaksanakan DataIndonesia bagian dari platform riset Bisnis Indonesia Group (BIG) tercatat 2 dari 14 ekonom yang disurvei menyebut terdapat ruang BI Rate September 2026 kembali naik 25 basis poin menjadi 6,00 persen.

Sebaliknya, sebanyak 85,71 persen atau 12 responden memperkirakan BI mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen. Dengan demikian, mayoritas responden memperkirakan tidak ada perubahan BI Rate pada RDG September 2026.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.