Pendap Bengkulu Rasa Sejarah dalam Balutan Daun Talas

oleh -226 Dilihat
oleh
Pendap, ikan fermentasi dibungkus daun talas, masak 8 jam. Favorit Bung Karno, kini mendunia: aroma rempah, daging lembut, oleh-oleh khas Bengkulu yang bertahan tanpa pengawet.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,-Di balik rimbunnya hutan dan deburan ombak Bengkulu, tersembunyi sebuah warisan kuliner yang tak lekang waktu—Pendap. Hidangan berbahan ikan laut yang dibalut daun talas ini bukan sekadar makanan. Ia adalah jejak sejarah, saksi bisu masa pengasingan Presiden pertama RI, Soekarno, di Bumi Rafflesia pada 1938–1942 . Konon, Bung Karno sangat gemar menyantap Pendap bersama masyarakat setempat, menjadikannya menu istimewa yang terus dikenang hingga kini,Proses 8 Jam yang Sakral.

Apa yang membuat Pendap begitu istimewa? Proses memasaknya mencapai 8 jam—jauh lebih lama dibanding pepes biasa. Ikan segar seperti kakap, kembung, atau gemuru dibersihkan dan difermentasi secara alami selama semalam. Rempah-rempah khas Sumatera bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, ketumbar, cabai, dan garam dihaluskan lalu dicampur dengan kelapa parut. Adonan ini kemudian membaluri ikan sebelum dibungkus rapat dengan lapisan daun talas dan daun pisang .

Mengapa daun talas? Selain memberi aroma khas, daun ini berfungsi melindungi ikan agar tetap lembap. Perebusan atau pengukusan berjam-jam bertujuan menghilangkan zat oksalat pada daun talas yang bisa menimbulkan gatal, sekaligus membuat bumbu meresap sempurna ke serat ikan,Cita Rasa yang Tak Tertandingi.

Hasil akhirnya adalah daging ikan yang super lembut, hampir hancur di lidah, dengan sensation gurih-pedas yang kompleks. Aroma rempah dan daun talas berpadu menciptakan keharuman khas yang langsung membangkitkan selera. Pendap biasanya dinikmati dengan nasi putih hangat dan sambal terasi, atau sebagai lauk pendamping gulai,Dari Kampung ke Panggung Dunia.

Dulu hanya dijual di pasar tradisional, kini Pendap mulai dilirik wisatawan mancanegara. Dengan harga Rp10.000–Rp15.000 per bungkus , hidangan ini menjadi oleh-oleh favorit karena tahan hingga tiga hari tanpa pengawet keunggulan dari proses fermentasi alami dan pengukusan lama.

Bahkan, Pendap telah diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Pemerintah Kota Bengkulu . Upaya ini diharapkan mengangkat martabat kuliner Nusantara sekaligus melestarikan resep turun-temurun yang nyaris punah, karena generasi muda kini lebih memilih makanan instan,Pelestarian dan Masa Depan.

Berbagai festival kuliner rutin digelar untuk mengenalkan Pendap, termasuk demo memasak langsung dengan tungku kayu bakar . Bagi Anda yang berkunjung ke Bengkulu, jangan lewatkan kedai legendaris seperti Pendap Mak Ngah atau Warung Ikan Bakar Jembatan Lima. Menikmati Pendap bukan hanya soal rasa, tetapi juga merasakan sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang diwariskan leluhur.

Di tengah gempuran kuliner modern, Pendap berdiri tegak sebagai bukti bahwa kesabaran memasak menghasilkan karya terbaik. Selamat menikmati.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.