Mahasiswa UGM Ciptakan “Sampah Pintar”, Tong Sampah Otomatis Pemisah Organik dan Anorganik Berbasis AI

oleh -44 Dilihat
oleh
Mahasiswa UGM luncurkan “Sampah Pintar”: tong otomatis pemilah organik-anorganik berbasis AI. Deteksi cepat, aplikasi pantau volume, solusi ekonomis untuk memudahkan daur ulang dan jaga kebersihan.-Foto: Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,– Inovasi ramah lingkungan kembali lahir dari anak bangsa. Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terdiri dari empat mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam berhasil menciptakan tempat sampah otomatis bernama “Sampah Pintar” atau SmartTrash. Prototipe alat ini mampu memilah sampah organik dan anorganik secara otomatis menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan sensor near-infrared.

Ketua tim pengembang, Rizki Adi Pratama, menjelaskan bahwa ide ini berawal dari keprihatinan terhadap rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah. “Mayoritas sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) masih tercampur. Padahal, jika dipilah sejak awal, sampah organik bisa diolah menjadi kompos dan anorganik bisa didaur ulang. SmartTrash hadir untuk menjawab tantangan itu,” ungkapnya saat ditemui di Laboratorium Teknik Mesin UGM, Senin (27/7).

Cara kerja alat ini cukup sederhana namun canggih. Saat pengguna membuang sampah, sensor akan mendeteksi jenis material. Jika sampah terdeteksi sebagai organik, seperti sisa makanan atau daun, maka tempat sampah akan membuka wadah berwarna hijau. Sebaliknya, jika sampah terdeteksi sebagai anorganik, seperti plastik, kaca, atau logam, maka wadah berwarna biru akan terbuka secara otomatis. Proses deteksi ini berlangsung kurang dari tiga detik, sehingga praktis dan efisien.

Dosen pembimbing tim, Dr. Ir. Sri Mulyani, M.Sc., menambahkan bahwa inovasi ini tidak hanya mempermudah pengelolaan sampah skala rumah tangga, tetapi juga dapat diimplementasikan di tempat umum seperti kampus, stasiun, dan pusat perbelanjaan. “Dengan adanya alat ini, kami berharap budaya memilah sampah tidak lagi menjadi beban, melainkan kebiasaan yang menyenangkan dan berdampak positif bagi lingkungan,” tuturnya.

Tak berhenti di situ, SmartTrash juga dilengkapi dengan aplikasi berbasis Android yang menampilkan data volume sampah dan notifikasi ketika tempat sampah sudah penuh. Hal ini memudahkan petugas kebersihan untuk melakukan pengangkutan secara terjadwal.

Rencananya, tim UGM akan mematenkan temuan ini dan menjalin kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta untuk uji coba skala besar. Dengan harga produksi sekitar Rp 2,5 juta per unit, alat ini dinilai lebih ekonomis dibandingkan sistem pemilahan berbasis pabrik.

“Ini adalah langkah kecil dengan dampak besar. Kami berharap SmartTrash bisa menjadi solusi cerdas dalam mengurangi volume sampah di TPA dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih serta berkelanjutan,” pungkas Rizki. Inovasi ini menjadi bukti bahwa teknologi dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan menuju Indonesia yang lebih hijau.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.