KLIKINFOBERITA.COM.”Luasan rumput laut di pantai timur Aceh lebih dari sekadar pemandangan indah. Di balik alga berwarna coklat kehijauan ini, terdapat potensi ekonomi yang bisa mencapai triliunan rupiah serta menjadi harapan baru dalam upaya global mengatasi perubahan iklim.
Dalam sepuluh tahun terakhir, rumput laut telah mengalami transformasi signifikan. Yang dulu cuma dianggap tanaman liar di pesisir, kini menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor dari sektor kelautan Indonesia. Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan bahwa volume ekspor rumput laut nasional pada 2024 mencapai lebih dari 250. 000 ton, dengan nilai mencapai USD 500 juta atau setara dengan Rp8 triliun.
“Permintaan dari negara-negara seperti China, Vietnam, dan Eropa terus meningkat. Mereka tidak hanya menggunakannya untuk makanan, tetapi juga sebagai bahan dasar farmasi dan kosmetik,” ungkap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Rina Mahyuni, saat ditemui di lokasi budidaya di Pantai Ujung Pancu, Banda Aceh, Selasa (29/4/2025).
Selama ini, kebanyakan orang mungkin hanya mengetahui rumput laut sebagai bahan campuran es buah, agar-agar, atau pembungkus sushi (nori). Namun, di pabrik modern, rumput laut ini diolah menjadi karagenan (bahan pengental alami) yang digunakan dalam produk es krim, pasta gigi, hingga cat dinding.
Kepala Balai Riset Budidaya Laut Nasional, Dr. Bambang Sutejo, menjelaskan bahwa nilai tambah dari rumput laut terletak pada komponen bioaktif yang dimilikinya.
“Terdapat fukosantin dalam alga coklat yang berfungsi sebagai antioksidan kuat, dan alginat yang terbukti efektif dalam menurunkan kolesterol. Saat ini sedang banyak penelitian untuk menjadikan rumput laut sebagai bahan baku bioplastik yang ramah lingkungan,” tegas Bambang.
Menariknya, budidaya rumput laut diyakini lebih berkelanjutan dibandingkan dengan komoditas pertanian darat. Tak perlu pupuk kimia, air tawar, atau lahan hutan. Lebih dari itu, ladang rumput laut berperan sebagai penangkap karbon (carbon sink) yang sangat efisien.
“Satu hektar hutan bakau dapat menyerap sekitar 1. 000 ton CO2 setiap tahun. Namun satu hektar lahan rumput laut jenis kelp mampu menyerap 2. 000 ton CO2 setiap tahun. Ini luar biasa,” ujar Dr. Sutejo.
Meskipun ada potensi besar ini, masih ada tantangan yang dihadapi. Para petani rumput laut tradisional sering kali mengeluhkan serangan penyakit ice-ice (pemutihan thallus) yang mengakibatkan gagal panen. Selain itu, fluktuasi harga di tingkat petani juga menjadi masalah.
“Ketika harga sedang baik, semua merasa senang. Tapi ketika panen melimpah dan pabrik lokal tidak mampu menyerap, harga bisa jatuh di bawah Rp2. 000 per kilogram. Biaya modal kami sekitar Rp5. 000,” keluh Jamaluddin, seorang petani rumput laut di Pidie.
Pemerintah saat ini tengah mendorong program “Ekonomi Biru” yang salah satu fokusnya adalah budidaya rumput laut yang berkelanjutan. Targetnya, pada 2030, Indonesia akan menjadi produsen rumput laut terbesar di dunia, menggantikan posisi China dan Filipina.
“Kami sedang mendukung para petani untuk memperoleh sertifikasi organik dan internasional. Dengan cara ini, harga jual bisa lebih tinggi karena produk kami terjamin bebas dari logam berat dan bahan kimia,” tambah Rina Mahyuni.
Jika semua berjalan sesuai rencana, bukanlah hal yang mustahil bahwa “emas hijau” dari dasar laut ini akan menjadi pilar ekonomi baru bagi jutaan nelayan dan sekaligus menjadi agen penyelamat lingkungan bagi bumi kita.







