KLIKINFOBERITA.COM,- Pengumuman dari uji laboratorium Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Bengkulu akhirnya dirilis dan disahkan oleh pemerintah setempat. Penemuan ini dengan tegas menunjukkan bahwa menu ayam goreng kunyit kemangi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) terdeteksi mengandung bakteri Staphylococcus aureus melebihi batas aman, yang diduga menjadi pemicu keracunan pada sembilan siswa SMP Negeri 3 Bengkulu Tengah pada Kamis, 23 April 2026.
Barti Hasibuan, kepala Dinas Kesehatan Bengkulu Tengah, menyatakan bahwa dokumen resmi mengenai hasil pemeriksaan telah diterima secara lengkap pada Kamis (7/5/2026). Dari semua sampel makanan yang diuji mulai dari nasi putih, tahu goreng, tumis sayur, hingga hidangan utama hanya satu jenis makanan yang terbukti tidak memenuhi standar keamanan pangan.
“Keputusan ini jelas: ada satu sampel yang positif mengandung bakteri Staphylococcus aureus dan jumlahnya sudah melebihi batas aman. Itu terjadi pada menu ayam kunyit. Angka yang tercatat adalah 7,2 x 10⁵ koloni per gram, jauh lebih tinggi daripada batas toleransi yang ditentukan,” jelas Barti saat dikonfirmasi. Sementara itu, makanan lainnya dinyatakan aman atau masih dalam batas yang wajar.
Bakteri ini merupakan bakteri alami yang biasanya ada di kulit manusia, terutama di tangan, hidung, dan rambut. Namun, jika jumlahnya terlalu banyak, bakteri ini bisa menghasilkan racun yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Kontaminasi ini biasanya terjadi akibat proses pengolahan, penyajian, atau penyimpanan makanan yang tidak higienis dan tidak memenuhi standar sanitasi.
Jika dikonsumsi dalam jumlah besar, bakteri ini dapat menyebabkan berbagai gejala keracunan akut seperti mual parah, muntah berulang, nyeri perut kram, diare, bahkan risiko dehidrasi dan penurunan tekanan darah. Gejala umumnya muncul dengan cepat, hanya dalam waktu 1–6 jam setelah mengonsumsi makanan. Dalam kasus yang serius, bakteri ini bisa menyebabkan infeksi pada kulit, infeksi dalam darah, hingga sindrom syok toksik jika tidak segera ditangani.
Peristiwa ini berawal ketika sembilan siswa merasa tidak enak badan setelah makan siang dari program MBG. Kesembilan anak tersebut langsung dibawa ke Klinik Rizky Medika dengan keluhan utama mual dan muntah. Salah satu orang tua siswa, Eni, mengungkapkan bahwa ia baru mengetahui kondisi anaknya dari orang tua lain dan merasa kecewa karena tidak ada pemberitahuan resmi dari sekolah.
“Saya terkejut mendapat kabar dari tetangga, ternyata anak saya sudah ada di klinik. Pihak sekolah sama sekali tidak ada yang menghubungi kami. Padahal saat di rumah, anak saya sudah bilang bahwa ayamnya punya bau yang aneh, berlendir, dan terlihat tidak segar atau basi,” kata Eni. Beruntung, semua siswa kini sudah pulih dan diizinkan pulang setelah mendapatkan perawatan medis.
Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah kini sedang melanjutkan langkah dari BPOM dengan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap penyedia layanan makanan, prosedur kebersihan, dan alur distribusi. Tindakan ini dimaksudkan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa serta untuk menjaga keamanan dan kualitas gizi yang diberikan kepada ribuan siswa di seluruh wilayah.








