KLIKINFOBERITA.COM,- Kabar mengenai dugaan keracunan makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa seorang siswi MTsN 2 Seluma akhirnya terjawab sudah. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis menyeluruh, tim dokter memastikan bahwa siswi berusia 12 tahun tersebut tidak mengalami keracunan makanan, melainkan dispepsia atau gangguan lambung akut.
Kesimpulan ini diperoleh setelah Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Kabupaten Seluma melakukan koordinasi intensif dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Seluma, manajemen RSUD Tais, serta dokter spesialis anak yang menangani pasien. Pemeriksaan laboratorium, USG lambung, dan evaluasi klinis secara komprehensif telah dilakukan untuk memastikan diagnosis.
Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Seluma, Reno Ardinata, menjelaskan bahwa pihaknya langsung bergerak cepat menelusuri informasi yang beredar. “Kami bersama Dinas Kesehatan dan dokter anak langsung mengecek ke RSUD Tais. Anak itu sudah dilakukan pemeriksaan laboratorium dan USG lambung. Alhamdulillah hasilnya bagus semua,” ujar Reno saat dikonfirmasi, Kamis (6/8/2026).
Reno menegaskan, koordinasi dengan rumah sakit dan dokter anak menjadi langkah prioritas untuk memastikan apakah ada kaitan antara kondisi pasien dengan makanan dari Program MBG. Hasilnya, tim medis menyatakan tidak ada indikasi keracunan makanan.
“Hasil komunikasi kami dengan pihak rumah sakit dan dokter anak menyatakan bahwa siswa tersebut bukan mengalami keracunan makanan. Dokter menyimpulkan pasien mengalami dispepsia atau gejala sakit lambung,” tambahnya.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Seluma, Elvi Arisah, turut memaparkan temuan medis secara lebih rinci. “Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium di RSUD Tais, kondisi yang dialami dipastikan bukan disebabkan oleh keracunan makanan dari Program Makan Bergizi Gratis,” jelasnya.
Secara klinis, pasien mengeluhkan mual dan sakit kepala tanpa disertai muntah. Gejala ini, menurut Elvi, tidak mengarah pada indikasi keracunan makanan. Selain itu, tim dokter juga menelusuri riwayat pola makan pasien. Dari keterangan keluarga, siswi tersebut diketahui memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan pedas seperti seblak dan cenderung kurang mengonsumsi protein hewani. Faktor ini diduga turut memicu gangguan pencernaan yang dialaminya.
Untuk memastikan diagnosis, pada Selasa (4/8/2026), tim medis kembali mengambil sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium lanjutan. Hasilnya kembali mengonfirmasi bahwa pasien mengalami dispepsia.
Saat ini, kondisi siswi asal Desa Selingsingan, Kecamatan Seluma Utara, itu dilaporkan terus membaik. Meski demikian, ia masih menjalani perawatan dan observasi di RSUD Tais hingga dinyatakan pulih.
Dengan hasil pemeriksaan ini, dugaan yang sempat berkembang di masyarakat mengenai keracunan akibat makanan Program MBG tidak terbukti secara medis. Kepastian ini diperkuat oleh hasil pemeriksaan dokter spesialis anak, laboratorium, serta koordinasi lintas instansi yang transparan dan profesional.







