Gustianto : Naskah Kuno Adalah Jati Diri, Jangan Biarkan Punah Dimakan Zaman

oleh -16 Dilihat
oleh
Wabup Gustianto membuka sosialisasi identifikasi naskah kuno. Mari jaga Surat Ulu dan warisan leluhur bukan barang usang, melainkan identitas Seluma untuk diwariskan ke generasi mendatang.-Foto : Hery/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Pemerintah Kabupaten Seluma terus menggencarkan upaya pelestarian warisan budaya daerah. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah dengan menggelar Sosialisasi Identifikasi Naskah Kuno bertema “Seluma Berbudaya, Naskah Kuno Tetap Terjaga”, yang secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Seluma, Drs. H. Gustianto, di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Seluma, Rabu (15/7/2026).

Dalam sambutannya, Wabup Gustianto menegaskan bahwa naskah kuno bukan sekadar tumpukan kertas usang, melainkan cermin peradaban yang menyimpan nilai sejarah, kearifan lokal, dan ilmu pengetahuan. Ia menyebut naskah kuno sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan jati diri masyarakat Seluma.

“Kegiatan ini adalah langkah strategis untuk memastikan warisan leluhur kita tidak hilang ditelan waktu. Melalui identifikasi yang sistematis, kita bisa mengenali, mendokumentasikan, dan melestarikan peninggalan sejarah yang menjadi kebanggaan daerah. Ini tanggung jawab kita bersama untuk generasi mendatang,” ujar Wabup dengan penuh semangat.

Sosialisasi kali ini menghadirkan dua guru besar ahli manuskrip dari Universitas Bengkulu serta seorang Duta Literasi sebagai narasumber. Kehadiran para pakar ini diharapkan mampu membuka wawasan masyarakat tentang cara mengenali, merawat, dan memaknai naskah kuno secara lebih ilmiah. Antusiasme peserta terlihat jelas, terutama saat sesi diskusi mengenai metode pelestarian yang tepat dan ramah terhadap kondisi fisik naskah tua.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Seluma, Suparjoh, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi pintu masuk bagi upaya pendataan menyeluruh terhadap manuskrip kuno yang masih tersebar di masyarakat. Salah satu fokus utama perhatian adalah pelestarian Surat Ulu (Ka Ga Nga), aksara tradisional yang kaya akan nilai historis dan filosofis.

“Kami sangat berharap masyarakat tidak lagi menganggap naskah kuno sebagai barang usang yang tak berguna. Surat Ulu adalah warisan luhur yang harus kita jaga bersama. Jika kita abai, bukan tidak mungkin aksara ini hanya akan dikenang dalam buku sejarah,” tegas Suparjoh.

Kegiatan ini diikuti oleh lintas elemen, mulai dari para camat, lurah, kepala desa se-Kabupaten Seluma, tokoh adat, hingga perwakilan organisasi kepemudaan dan komunitas pencinta budaya. Keberagaman peserta menunjukkan komitmen kolektif seluruh lapisan masyarakat dalam menjaga kekayaan intelektual dan spiritual daerah.

Dengan digelarnya sosialisasi ini, Pemerintah Kabupaten Seluma berharap kesadaran kolektif terhadap pelestarian budaya semakin tumbuh. Bukan hanya sekadar menyimpan, tetapi juga memahami, merawat, dan mewariskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap lembar naskah kuno.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.