Dolar AS Tertekan, Rupiah dan Mayoritas Mata Uang Asia Menguat

oleh -130 Dilihat
oleh
Rupiah menguat di tengah pelemahan dolar global; pedagang valuta memantau pergerakan pasar setelah BI mempertahankan suku bunga, sementara investor menunggu sinyal kebijakan The Fed di Jackson Hole.-Foto : Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini, mengikuti kecenderungan penguatan pada mayoritas mata uang Asia yang didorong oleh pelemahan dolar. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,31% ke level Rp17.685 per USD pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Penutupan itu menjadi penguatan ketiga berturut-turut dan merupakan posisi terkuat rupiah sejak 22 Mei 2026.

Secara mingguan, rupiah mencatat penguatan 0,76% dan menjadi salah satu dari sembilan mata uang Asia yang menguat terhadap dolar minggu ini. Penguatan rupiah mendapat dukungan sentimen domestik setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur periode 18–19 Agustus 2026. BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility pada 6,50%. Kebijakan tersebut dinilai membantu menjaga stabilitas nilai tukar sembari mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Di antara mata uang Asia, won Korea Selatan menjadi penguat terkuat dengan lonjakan 2,17% ke posisi KRW1.385,8 per USD. Penguatan won muncul saat pasar mencermati arah kebijakan moneter Bank of Korea (BOK). Pada Juli lalu, BOK menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam sekitar 3,5 tahun, dan pejabat BOK menyatakan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan membaik serta inflasi masih di atas target. Kondisi itu menjaga ekspektasi bahwa kebijakan moneter kemungkinan tetap ketat menjelang pertemuan BOK berikutnya pada 27 Agustus 2026.

Kenaikan won juga mendapat dukungan dari koordinasi kebijakan antara otoritas Korea Selatan dan Jepang. Pejabat kedua negara bertemu di Tokyo pada Jumat lalu dan berkomitmen menjaga komunikasi terkait perkembangan pasar valuta asing, beberapa pekan setelah kedua negara mengambil langkah bersama untuk menopang mata uang masing-masing.

Beberapa mata uang Asia lainnya juga mencatatkan penguatan mingguan: baht Thailand naik 1,30% ke THB32,67 per USD, ringgit Malaysia menguat 1,20%, dan dolar Singapura terapresiasi 0,75%. Dolar Taiwan menguat 0,57% ke TWD31,825 per USD, sedangkan yuan China menguat 0,30% ke CNY6,721 per USD. Yen Jepang menguat 0,23% ke JPY158,93 per USD, dan dong Vietnam menorehkan penguatan paling terbatas sebesar 0,13% ke VND26.114 per USD. Satu-satunya mata uang Asia yang melemah adalah peso Filipina, terkoreksi 0,33% ke PHP61,650 per USD.

Penguatan mata uang Asia sejalan dengan melemahnya indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,87% sepanjang pekan ke level 98,800. Tekanan terhadap dolar muncul setelah total utang pemerintah AS menembus angka US$40 triliun untuk pertama kalinya, memicu kekhawatiran soal defisit fiskal dan kebutuhan penerbitan surat utang yang lebih besar.

Kekhawatiran itu mendorong aksi jual obligasi pemerintah AS dan membuat imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun sempat melonjak ke sekitar 5,34%, level tertinggi sejak 2007. Merespons volatilitas pasar obligasi, Departemen Keuangan AS meningkatkan program pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang. Nilai operasi buyback untuk tenor 10–30 tahun dinaikkan minimal dua kali lipat menjadi US$4 miliar dalam setiap operasi, berlaku untuk periode 9 September 4 November 2026.

Langkah tersebut sempat menekan imbal hasil obligasi jangka panjang, namun pelaku pasar khawatir bahwa upaya menahan yield justru melemahkan dolar. “Upaya Bessent menekan imbal hasil AS tidak banyak berdampak pada imbal hasil, tetapi justru melemahkan dolar,” kata Marc Chandler, Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex, dikutip dari Reuters.

Meski dolar melemah, pasar tetap mencermati arah kebijakan The Federal Reserve. Saat ini pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September sekitar 40%, sedangkan kemungkinan kenaikan hingga Desember mencapai 72%. Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam simposium Jackson Hole pekan depan untuk mencari sinyal tentang arah suku bunga AS di tengah tekanan inflasi dan gejolak pasar obligasi.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.