KLIKINFOBERITA.COM,– Selama ini bulu bebek kerap dipandang sebelah mata sebagai limbah peternakan yang tak bernilai. Namun, di balik kesan kumuhnya, komoditas ini menyimpan peluang emas di pasar mancanegara. Tingginya permintaan global mendorong Badan Karantina Indonesia (Barantin) untuk bergerak cepat membekali pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Timur agar tidak sekadar menjadi penonton, melainkan aktor utama dalam rantai ekspor.
Langkah nyata itu diwujudkan melalui program Go Ekspor Barantin Web Series Episode 2 yang mengusung tema “Kupas Tuntas: Bulu Bebek Jawa Timur Mendunia.” Acara yang digelar secara daring pada Rabu (22/7) ini dirancang sebagai ruang belajar interaktif bagi para pengrajin dan eksportir pemula. Mereka dibekali pengetahuan menyeluruh, mulai dari seluk-beluk proses ekspor, standar mutu yang ketat, hingga dokumen teknis yang wajib dipenuhi sesuai regulasi negara tujuan.
Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin, Sriyanto, menegaskan bahwa sistem karantina bukanlah penghalang, melainkan jembatan emas bagi produk Indonesia agar diterima di kancah global. “Setiap kiriman bulu bebek yang hendak diekspor harus melalui proses pemeriksaan fisik dan verifikasi dokumen yang komprehensif. Ini bukan sekadar formalitas, tetapi harga mati untuk memastikan bahwa produk kita benar-benar bersih, sehat, dan aman,” ujarnya.
Sriyanto menambahkan, kepatuhan terhadap persyaratan karantina adalah investasi jangka panjang untuk membangun reputasi. Dengan menjamin kualitas sejak dari hulu, produk unggulan Jatim diyakini mampu bersaing dengan negara-negara penghasil bulu unggas lainnya. Pendampingan dari Barantin diharapkan mampu menjembatani kesenjangan informasi yang selama ini sering menjadi kendala utama UMKM.
Lebih dari sekadar bimbingan teknis, inisiatif ini juga menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius mengangkat potensi daerah. Dengan akses pasar yang semakin terbuka dan pemahaman regulasi yang mumpuni, bulu bebek yang semula dianggap sampah kini bertransformasi menjadi komoditas ekspor bernilai tambah. Hal ini sejalan dengan upaya mendorong ekonomi nasional dari akar rumput, sekaligus membuktikan bahwa produk lokal sanggup mendunia jika dikelola dengan standar terbaik.









