Airlangga Dorong Kemitraan Ekonomi Indonesia-AS Lebih Konkret, Investasi Strategis Jadi Prioritas

oleh -39 Dilihat
oleh
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu Ambassador Brian McFeeters, President and CEO US-ABC, di Jakarta, membahas penguatan kemitraan ekonomi, peningkatan investasi, perdagangan bilateral, dan pengembangan sektor strategis Indonesia–Amerika Serikat.-Foto : Ist, Ansori/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Pemerintah Indonesia mendorong penguatan kemitraan ekonomi dengan Amerika Serikat (AS) melalui peningkatan investasi produktif, perluasan perdagangan bilateral, dan pengembangan sektor-sektor strategis yang mampu memperkuat industri nasional serta menciptakan lapangan kerja.

Komitmen tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Ambassador Brian McFeeters, President and CEO US-ASEAN Business Council (US-ABC), di Jakarta, Selasa (27/10/2026). Pertemuan itu turut dihadiri perwakilan korporasi dan kalangan dunia usaha untuk membahas peluang pengembangan kerja sama ekonomi kedua negara.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam bahan pertemuan, nilai perdagangan bilateral Indonesia dan AS mencapai US$32,34 miliar pada Januari–Agustus 2026, tumbuh 11,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, investasi AS di Indonesia tercatat mencapai US$3,4 miliar hingga triwulan III 2026.

Airlangga menegaskan bahwa peningkatan perdagangan dan investasi perlu diikuti manfaat ekonomi yang lebih luas bagi Indonesia, terutama melalui penguatan kapasitas industri, penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

“Keberhasilan kemitraan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat tidak cukup diukur dari peningkatan nilai perdagangan dan investasi. Yang terpenting adalah bagaimana kerja sama tersebut memperkuat industri nasional, menciptakan lapangan kerja, mendorong transfer teknologi, dan menghasilkan nilai tambah yang nyata bagi perekonomian Indonesia,”ujar Airlangga.

Menurut Airlangga, Indonesia membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan AS untuk memperluas investasi di berbagai sektor strategis, termasuk manufaktur, teknologi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan energi. Pengembangan sektor-sektor tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing industri nasional, serta memperluas keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok global.

Pemerintah juga mendorong agar investasi asing tidak hanya berorientasi pada perluasan pasar, tetapi turut membangun kapasitas produksi, memperkuat kemitraan dengan pelaku usaha lokal, dan menciptakan peluang pengembangan sumber daya manusia.

“Kami ingin perusahaan-perusahaan Amerika Serikat melihat Indonesia bukan hanya sebagai pasar, melainkan juga sebagai mitra strategis untuk mengembangkan usaha, memperkuat rantai pasok, dan menciptakan nilai tambah. Investasi yang kami dorong adalah investasi yang mampu memperkuat industri nasional dan memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian Indonesia,” harapan Airlangga.

Dari perspektif dunia usaha, penguatan hubungan ekonomi Indonesia–AS memerlukan dialog berkelanjutan antara pemerintah dan sektor swasta, terutama untuk mengidentifikasi peluang investasi, meningkatkan kepastian berusaha, dan menyelesaikan hambatan yang dapat memengaruhi keputusan bisnis.

Brian McFeeters menyoroti pentingnya menerjemahkan potensi hubungan ekonomi kedua negara menjadi kemitraan bisnis yang konkret dan berjangka panjang. Keterlibatan perusahaan AS bersama mitra lokal dinilai dapat membuka peluang perluasan investasi sekaligus mendukung pengembangan kapasitas industri dan sumber daya manusia.

“Peluang kerja sama ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat perlu diterjemahkan menjadi kemitraan bisnis yang konkret dan berjangka panjang. Dialog yang terbuka antara pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci untuk mengidentifikasi peluang, mengatasi hambatan usaha, dan membangun kepercayaan yang mendukung investasi,”jelas McFeeters.

Peran US-ABC menjadi relevan dalam menjembatani komunikasi antara pemerintah dan perusahaan-perusahaan AS yang memiliki kepentingan bisnis di Indonesia dan kawasan ASEAN. Melalui dialog tersebut, berbagai masukan dari pelaku usaha dapat dibahas secara konstruktif untuk memperluas peluang kerja sama dan mendukung iklim investasi yang lebih kondusif.

McFeeters juga dapat dimintai penegasan mengenai potensi kolaborasi di sektor manufaktur, teknologi digital, AI, dan energi, termasuk peluang kemitraan antara perusahaan AS dan pelaku industri Indonesia.

“Penguatan hubungan ekonomi kedua negara membutuhkan kerja sama yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Dengan memperluas kolaborasi antara perusahaan Amerika Serikat dan mitra Indonesia, terdapat peluang untuk meningkatkan investasi, memperkuat kemampuan industri, mengembangkan sumber daya manusia, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,”pungkas McFeeters.

Selain memperluas peluang investasi, pertemuan tersebut membahas pentingnya penyelesaian hambatan usaha dan berbagai isu perdagangan yang masih menjadi perhatian kedua negara.

Pemerintah Indonesia membuka ruang dialog untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi pelaku usaha sekaligus mencari solusi yang dapat mendukung kelancaran perdagangan dan investasi. Kepastian regulasi, komunikasi yang efektif, dan mekanisme penyelesaian masalah yang konstruktif menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan dunia usaha.

Upaya tersebut diharapkan dapat menciptakan hubungan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan, sekaligus memastikan bahwa peningkatan investasi berjalan seiring dengan kepentingan pembangunan nasional.

Bagi Indonesia, penguatan kemitraan dengan AS juga menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas investasi, memperluas jaringan perdagangan, dan memperkuat posisi industri nasional dalam rantai pasok internasional.

Ke depan, tindak lanjut konkret dari dialog pemerintah dan dunia usaha akan menjadi faktor penting dalam menerjemahkan potensi hubungan bilateral menjadi hasil ekonomi yang terukur. Peningkatan investasi produktif, perluasan kesempatan kerja, penguatan industri, dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri menjadi sasaran utama yang perlu dikedepankan.

Dengan pendekatan tersebut, kemitraan Indonesia–AS diharapkan tidak hanya tumbuh dari sisi nilai perdagangan, tetapi juga semakin kuat dalam kualitas investasi dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.