Rupiah Diproyeksikan Melemah, Dipicu Penguatan Dolar dan Risiko Geopolitik

oleh -28 Dilihat
oleh
Dolar AS dan rupiah di Jakarta. Penguatan dolar global dan sentimen geopolitik menekan rupiah, memicu volatilitas di pasar valuta asing hari ini, Rabu, 26 Agustus 2026.- Foto : Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026. Proyeksi itu didasari penguatan indeks dolar AS dan sejumlah sentimen domestik yang menekan pasar.

Berdasarkan data Doo Financial Futures, pada penutupan perdagangan Senin, 24 Agustus 2026, rupiah melemah 0,15% ke level Rp17.721 per dolar AS. Pelemahan rupiah sejalan dengan penurunan beberapa mata uang Asia, antara lain yuan China turun 0,03%, ringgit Malaysia turun 0,10%, dan baht Thailand turun 0,01%. Di sisi lain, dolar Hong Kong menguat 0,04% dan won Korea Selatan naik 0,10%.

Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu pendorong penguatan dolar AS adalah ancaman sanksi baru kepada Iran. Pernyataan pejabat AS itu muncul setelah Presiden Donald Trump memperingatkan kemungkinan perang ekonomi terhadap Iran di tengah ketegangan yang masih berlangsung di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya.

“Ketegangan geopolitik meningkatkan permintaan aset safe haven, termasuk dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangan resmi, Senin lalu. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga energi akibat konflik dapat memicu kekhawatiran inflasi global dan memperkecil kemungkinan The Fed memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Sentimen global lain yang menguatkan dolar adalah catatan positif pada sektor jasa AS. Indeks PMI Jasa S&P Global AS untuk Agustus tercatat 56,8, melampaui ekspektasi 54 dan meningkat dari 54,6 pada Juli. Angka itu menjadi level tertinggi sejak Desember 2024 dan menegaskan ketahanan aktivitas domestik AS.

Dari dalam negeri, pasar keuangan bereaksi negatif terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 yang mencapai US$12,5 miliar atau 3,3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pelebaran ini terutama dipicu oleh meningkatnya impor minyak sejalan dengan lonjakan harga minyak dunia.

Meski demikian, Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal II-2026 menunjukkan perbaikan; defisit tercatat US$900 juta, jauh menurun dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada kuartal I-2026. Perbaikan itu didorong arus modal dan finansial yang berbalik surplus US$12 miliar setelah sebelumnya defisit US$4,8 miliar.

Ibrahim memperingatkan bahwa tekanan pada transaksi berjalan kemungkinan berlanjut jika harga minyak tetap tinggi, volume impor energi tak turun, serta permintaan ekspor melemah akibat perlambatan ekonomi global dan eskalasi ketegangan geopolitik.

Untuk perdagangan Rabu ini, ia memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, diperkirakan menutup pada kisaran Rp17.720—Rp17.770 per dolar AS.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.