Rupiah Tertekan, Diproyeksi Bergerak Rp17.910–Rp17.960 per Dolar AS Hari Ini

oleh -54 Dilihat
oleh
Nilai tukar rupiah diproyeksikan melemah pada perdagangan Selasa (6/10/2026), berada di kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS, di tengah tekanan geopolitik dan energi global.-Foto : Istimewa/klikinfoberita.com

KLIKINFOBERITA.COM,- Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan baru pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Eskalasi konflik di Timur Tengah, ketidakpastian politik Amerika Serikat (AS), serta ancaman gangguan pasokan energi menjadi kombinasi sentimen yang berpotensi membuat rupiah kembali melemah terhadap dolar AS.

Tekanan tersebut bukan hanya menjadi persoalan pasar valuta asing. Pelemahan rupiah di tengah meningkatnya risiko energi global dapat ikut memengaruhi biaya impor, harga komoditas, hingga beban pengadaan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Karena itu, pergerakan rupiah menjadi salah satu indikator yang kembali mendapat perhatian pasar.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa, tetapi cenderung melemah dan berada pada kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS.

Proyeksi tersebut menyusul kinerja rupiah pada perdagangan Senin (5/10/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,20 persen atau 35 poin ke level Rp17.917 per dolar AS. Posisi tersebut sejalan dengan JISDOR Bank Indonesia yang turun 0,11 persen atau 19 poin dari Rp17.898 menjadi Rp17.917 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, salah satu sumber tekanan berasal dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya perkembangan konflik di Yaman. Situasi tersebut berpotensi mengganggu jalur pasokan dan stabilitas energi global.

Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi disebut berencana melakukan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah dari kelompok Houthi. Di sisi lain, Houthi yang didukung Iran mengklaim meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh.

Ancaman terhadap fasilitas energi tersebut menjadi perhatian karena gangguan produksi atau distribusi minyak dapat mendorong kenaikan harga energi dunia. Bagi Indonesia, kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya impor energi dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Tekanan eksternal juga datang dari AS. Pelaku pasar mencermati perkembangan politik menjelang pemilihan paruh waktu serta sejumlah agenda ekonomi penting pekan ini, termasuk ISM Services PMI, data ketenagakerjaan mingguan, risalah FOMC, dan sentimen konsumen University of Michigan.

Di dalam negeri, persoalan pasokan BBM turut menjadi perhatian. Ibrahim menyebut Indonesia kehilangan sekitar 25 persen sumber pasokan impor bahan bakar sejak konflik Timur Tengah meningkat.

Pemerintah dan Pertamina kemudian mencari sumber pasokan alternatif secara langsung dari negara-negara yang memiliki kelebihan stok. Strategi tersebut dapat meningkatkan biaya pengadaan, tetapi diperlukan untuk menjaga ketersediaan BBM nasional.

“Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan stok BBM nasional tetap tersedia di tengah ketidakpastian pasokan global,” ujar Ibrahim.

Pemerintah juga berupaya mempertahankan harga BBM subsidi agar tidak meningkat sekaligus menjaga ketahanan stok nasional pada level 18–20 hari.

Menurut Ibrahim, antrean BBM yang muncul di sejumlah daerah tidak serta-merta menunjukkan krisis stok. Kendala distribusi juga dapat menjadi penyebab, termasuk dampak El Nino yang berpotensi mengganggu pengiriman melalui jalur sungai.

Dengan tekanan geopolitik, ketidakpastian ekonomi AS, dan persoalan pasokan energi yang masih berlangsung, rupiah diperkirakan belum terbebas dari tekanan. Perdagangan Selasa menjadi penting untuk melihat seberapa kuat rupiah bertahan di tengah meningkatnya risiko global.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.